Ruang lingkup tanggung jawabpendidikandalam
lingkungan keluarga ditentukan atas fungsi-fungsi. Menurut Nur’aeni (2010) ada
8 fungsi keluarga dalam tanggung jawabpendidikan, yaitu :
1. FungsiEdukasi
Fungsi edukasi terkait dengan pendidikananaksecara khusus dan pembinaan anggota
keluarga pada umumnya. Ki Hajar Dewantara menyebutkan bahwa “keluarga adalah
pusat pendidikan yang utama dan pertama bagi anak”. Fungsi pendidikan amat
fundamental untuk menanamkan nilai-nilai dan sistem perilaku manusia dalam
keluarga.
2. Fungsi Sosialisasi
Fungsi sosialisasi bertujuan untuk mempersiapkan anak menjadi anggota
masyarakat. Anak adalah pribadi yang memiliki sifat kemanusiaan sebagai makhluk
individu dan juga sebagai makhluk sosial. Menarik untuk memaknai pendapat Karl
Mannheim yang dikutip oleh MI Soelaeman (1994), bahwa “anak tidak didik dalam
ruang dan keadaan yang abstrak, melainkan selalu di dalam dan diarahkan kepada
kehidupan masyarakat tertentu.”. Dengan demikian anak memiliki prinsip
sosialitas, disamping prinsip individualitas. Prinsip sosialitas, mengharuskan
anak dibawa dan diarahkan untuk mengenali nilai-nilai sosial lingkungannya oleh
orang tuanya.
3. Fungsi Proteksi
Tujuan dari fungsi proteksi yaitu untuk melindungi anak bukan saja secara
fisik, melainkan pula secara psikis. Secara fisik fungsi perlindungan ditujukan
untuk menjaga pertumbuhan biologisnya sehingga dapat menjalankan tugas secara
proporsional. Disamping itu fungsi proteksi psikis dan spiritual yaitu dengan
mengendalikan anak dari pergaulannegatifdan
sikap lingkungan yang cenderung menekan perkembangan psikologinya.
4. Fungsi Afeksi
Fungsi ini terkait dengan emosional anak. Anak akan merasa nyaman apabila mampu
melakukankomunikasidengan
keluarganya dengan totalitas seluruh kepribadiannya. Kasih sayang yang
dicurahkan kepada anak akan memberi kekuatan, dukungan atas kehiduapn
emosionalnya yang berpengaruh pada kualitas hidupnya di masa depan.
5. Fungsi Religius
Yang dimaksud adalah fungsi keluarga untuk mengarahkan anak ke arah pemerolehan
keyakinan keberagamaannya yang benar. Keluarga menjadi kendali utama yang dapat
menunjukkan arah menjadi Islam yang kaffah atau sekuler.
6. Fungsi Ekonomis
Fungsi ini berkaitan dengan pemenuhan selayaknya kebutuhan yang bersifat
materi. Secara normatif anak harus dipersiapkan agar kelak memikul tanggung
jawab ekonomi keluarga, membangun kepribadian yang mandiri bukan menjadi objek
pemaksaan orang tua.
7. Fungsi Rekreasi
Memberikan wahana dan situasi yang memungkinkan terjadinya kehangatan,
keakraban, kebersamaan dan kebahagiaan bersama seluruh anggota keluarga.
8. Fungsi Biologis
Faktor biologis adalah faktor alamiyah manusia. Faktor ini meliputi
perlindungan kesehatan, termasuk juga memperhatikan pertumbuhan biologisnya
serta perlindungan terhadap hubungan seksualnya.
Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga masyarakat dan pemerintah. Sehingga orang tua tidak boleh menganggap bahwa pendidikan anak hanyalah tanggung jawab sekolah. Orang tua sebagai lingkungan pertama dan utama dimana anak berinteraksi sebagai lembaga pendidikan yang tertua, artinya disinilah dimulai suatu proses pendidikan. Sehingga orang tua berperan sebagai pendidik bagi anak-anaknya. Lingkungan keluarga juga dikatakan lingkungan yang paling utama, karena sebagian besar kehidupan anak di dalam keluarga, sehingga pendidikan yang paling banyak diterima anak adalah dalam keluarga. Menurut Hasbullah (1997), dalam tulisannya tentang dasar-dasar ilmu pendidikan, bahwa keluarga sebagai lembaga pendidikan memiliki beberapa fungsi yaitu fungsi dalam perkembangan kepribadian anak dan mendidik anak di rumah serta fungsi keluarga/orang tua dalam mendukung pendidikan di sekolah.
Fungsi keluarga dalam pembentukan kepribadian dan mendidik anak di rumah antara lain:
• Bertanggung jawab dalam memotivasi dan mendorong keberhasilan anak
• Memberikan kesempatan belajar dengan mengenalkan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi kehidupannya kelak sehingga ia mampu menjadi manusia dewasa yang mandiri.
• Menjaga kesehatan anak sehingga ia dapat dengan nyaman menjalankan proses belajar yang utuh.
• Memberikan kebahagiaan dunia dan akhirat dengan memberikan pendidikan agama sesuai ketentuan Allah Swt, sebagai tujuan akhir manusia.
Fungsi keluarga/ orang tua dalam mendukung pendidikan anak di sekolah :
• Orang tua bekerjasama dengan sekolah
• Sikap anak terhadap sekolah sangat dipengaruhi oleh sikap orang tua terhadap sekolah, sehingga sangat dibutuhkan kepercayaan orang tua terhadap sekolah yang menggantikan tugasnya selama di ruang sekolah.
• Orang tua harus memperhatikan sekolah anaknya, yaitu dengan memperhatikan pengalaman-pengalamannya dan menghargai segala usahanya.
• Orang tua menunjukkan kerjasama dalam menyerahkan cara belajar di rumah, membuat pekerjaan rumah dan memotivasi dan membimbimbing anak dalam belajar.
• Orang tua bekerjasama dengan guru untuk mengatasi kesulitan belajar anak
• Orang tua bersama anak mempersiapkan jenjang pendidikan yang akan dimasuki dan mendampingi selama menjalani proses belajar di lembaga pendidikan.
Untuk dapat menjalankan fungsi tersebut secara maksimal, orang tua harus memiliki kualitas diri yang memadai, sehingga anak-anak akan berkembang sesuai dengan harapan. Artinya orang tua harus memahami hakikat dan peran mereka sebagai orang tua dalam membesarkan anak, membekali diri dengan ilmu tentang pola pengasuhan yang tepat, pengetahuan tentang pendidikan yang dijalani anak, dan ilmu tentang perkembangan anak, sehingga tidak salah dalam menerapkan suatu bentuk pola pendidikan terutama dalam pembentukan kepribadian anak. Pendampingan orang tua dalam pendidikan anak diwujudkan dalam suatu cara-cara orang tua mendidik anak. Cara orang tua mendidik anak inilah yang disebut sebagai pola asuh. Setiap orang tua berusaha menggunakan cara yang paling baik menurut mereka dalam mendidik anak. Untuk mencari pola yang terbaik maka hendaklah orang tua mempersiapkan diri dengan beragam pengetahuan untuk menemukan pola asuh yang tepat dalam mendidik anak.
Pendidikan anak yang merupakan kewajiban orang tua merupakan suatu hal yang harus senantiasa dikembangkan kemampuannya. Permasalahan kemerosotan moral anak masa kini tidak boleh hanya dipandang dari sisi anak saja. Memang benar bahwa pelakunya adalah anak, tapi harus juga dilihat pada sisi orang tua, apakah orang tua telah memberikan pendidikan yang terbaik kepada anak-anaknya ataukah belum. Maka tidak dapat dipungkiri senantiasa belajar dan belajar menjadi orang tua yang “pendidik” merupakan hal yang pasti. Berikut ini adalah beberapa kiat bagaimana cara mendidik anak yang disampaikan oleh Dr. Shalah Ar-Rasyid, pakar pendidikan di Timur Tengah. 1. Tumbuhkan kepercayaan anak pada dirinya. Di antara masalah penting dalam kehidupan manusia adalah menjadi orang yang percaya terhadap kemampuannya. Apabila seseorang tidak percaya pada dirinya sendiri maka dia dalam bahaya besar. Didiklah anak-anak anda untuk percaya diri dan biarkan sekali-kali dia melakukan suatu pekerjaan sendiri. Berilah keluasaan padanya untuk berbeda pendapat dengan anda, selama hal itu bukan suatu hal yang salah. 2. Ajarilah mereka bagaimana cara untuk mengubah dirinya. Ajarilah mereka bagaimana cara untuk mengubah dirinya, dan bagaimana mereka bergaul dengan perubahan. Sesungguhnya apa yang mereka dapatkan di pelajaran-pelajaran sehari-hari mayoritas tidak akan bermanfaat bagi mereka, karena ilmu-ilmu dan pengetahuan berubah dengan kontinyu. Mempelajari “bagaimana” yaitu mempelajari kehidupan. 3. Berilah mereka kecintaan secara penuh. Lihatlah kepada bapak dan ibu yang mereka berusaha dengan sungguh-sungguh agar kedudukan anak-anak mereka melebihi apa yang mereka dapatkan. Terimalah mereka apa adanya dan berilah mereka kesempatan untuk berubah. 4. ajarilah mereka untuk bahagia. Apabila anda merasa bahagia maka jadikanlah anak anda pun bahagia. Pergaulilah mereka sebagaimana orang yang bahagia, jadikanlah pertemuanmu dengannya terasa ringan semampu anda. Biarkanlah mereka mempelajari kebahagiaan dari asasnya dan menitinya melalui jalannya orang-orang yang bahagia dan sukses. 5. Jauhilah sikap memaksakan kehendak. Justru kedepankan kepadanya sikap bersahabat dan mencari solusi dari permasalahannya. Hindari pula menakut-nakuti, mencela dan juga tidak menghiraukannya. 6. Berilah mereka tanggung jawab. Hanyalah orang-orang yang mengemban tanggung jawab yang akan berhasil dalam kehidupan. Ajarilah anak-anak anda sedari kecil untuk memikul tanggung jawab dalam tugas-tugas dirinya, mulai dari mengganti baju, menjaga barang-barangnya dan lain-lain. 7. Yang terakhir adalah berilah pengertian dan pengajaran kepadanya secara bertahap. Anda dalam bergaul dan mendidik anak anda haruslah mengedepankan pengajaran secara bertahap. Sesungguhnya semua hal itu tidak berubah secara cepat tetapi semuanya dengan tahapan-tahapan. Jadilah anda orang yang pelan tapi pasti. Diadaptasi dari Majalah “Al-Ayyam wa An-Nas” Dr. Shalah Ar-Rasyid
Tiap anak mempunyai sifat dasar yang mereka miliki sejak lahir. Dan sifat dasar mereka itu berbeda pada tiap anak. Ada yang mudah bergaul, ada yang pemalu, ada ramah,ada yang rajin dst. Akan tetapi janganlah mencap anak dengan sifat dasar mereka. Jangan beri label pada anak-anak anda.Karena bila anak mendengar hal itu berulang-ulang dia akan percaya bahwa hal itu benar dan dia akan mulai bertingkah seperti itu. Orangtua biasanya memberi cap pada anak-anak mereka karena gaya komunikasi orangtua didasarkan pada kepribadian mereka sendiri. Memberi cap pada anak-anak mereka akan memberikan pembeda sehingga orangtua lebih mudah mengenali siapa mereka dan bagaimana mereka bertindak. hal itu membuat mereka merasa nyaman. Hilangkan cap yang ada pada diri anak, pandangi kepribadiannya dan bersikaplah konsisten dengan ekspektasi anda sehingga anak mendapat kebebasan menemukan jati dirinya. Ada beberapa anjuran dan larangan tentang bagaimana berkomunikasi dengan anak yang artinya berbicara dengan anak dengan sopan penuh hormat, tidak ada teriakan, tanpa rasa iba dan tak ada desakan. 1. Bagaimana berbicara dengan anak anda (teknik dasar) Bicara dengan anak dimulai sejak dini yaitu ketika anak masih bayi karena akan semakin efektif untuk mengubah kenakalan dan mencegah tingkah laku normal menjadi masalah yang tidak bisa dikendalikan. Komunikasi yang dilakukan dengan bicara yang lembut secara berulang-ulang mengajari bayi tentang apa yang pantas dan apa yang tidak pantas untuk dilakukan. Ada beberapa teknik dasar untuk berbicara pada anak (sesuai umur). Untuk menenangkan anak yang sedang kesal ada beberapa langkah yang bisa dilakukan
Turunkan tubuh anda sejajar dengan anak/ setinggi anak
Tatap matanya. Palingkan kepala dengan lembut sehingga dia menatap langsung mata anda
Usap punggung atau perutnya jika anak sangat marah. Jika dia histeris dan perlu ditenangkan peluk dia.
Ubah nada suara anda dengan tegas tapi lembut.
Beri kata-kata pada anak untuk membantu mengalirnya percakapan. Tanya apa yang membuatnya kesal atau marah.
Ulangi apa yang dikatakan oleh anak. Agar mereka tau bahwa anda benar-benar mendengarkan ceritanya.
Jangan menyela bila anak mengatakan apa yang ada dibenaknya. Dan katakana anda mengerti. Sehingga ketika anda berbicara anak akan mendengarkan anda.
Tetap tenang. Biarpun anda sangat marah, bersikaplah tetap tenang.
Wadah Penggodokan Keterampilan Emosional
Kehidupan keluarga merupakan sekolah pertama kita untuk mempelajari emosi; dalam lingkungan yang akrab ini kita belajar bagaimana merasakan perasaan kita sendiri dan bagaimana orang lain menanggapi perasan kita; bagaimana berpikir tentang perasaan ini dan pilihan-pilihan apa yang kita miliki untuk bereaksi; serta bagaimana membaca dan mengungkapkan perasaan, harapan dan rasa takut. Pembelajaran emosi ini bukan hanya melalui hal-hal yang diucapkan dan dilakukan oleh orang tua secara langsung kepada anak-anaknya, melainkan juga melalui contoh-contoh yang mereka berikan sewaktu menangani perasaan mereka sendiri atau perasaan yang biasa muncul antara suami istri. Ada orang tua yang berbakat sebagai guru emosi yang sangat baik , ada yang tidak. Ada ratusan penelitian yang memperlihatkan bahwa cara orangtua memperlakukan anak-anaknya-entah dengan disiplin yang keras atau pemahaman yang empatik, entah dengan ketidak pedulian atau kehangatan, dan sebagainya – berakibat mendalam dan permanen bagi kehidupan emosional anak. Tetapi, baru belakangan ini terdapat data kuat yang memperlihatkan bahwa mempunyai oran tua yang cerdas secara emosional itu sendiri merupakan keuntungan yang besar sekali bagi seorang anak. Cara-cara yang digunakan pasangan suami istri untuk menangani perasaan-perasaan di antara mereka –selain tindakan langsung mereka pada seorang anak– memberikan pelajaran-pelajaran ampuh kepada anak-anak mereka, karena anak-anak adalah murid yang pintar, yang sangat peka terhadap transmisi emosi yang paling halus sekalipun dalam keluarga. pemelitian menunjukkan bahwa pasangan yang secara emosional lebih terampil dalam pernikahannya juga merupakan pasangan yang paling berhasil membantu anak-anaknya menghadapi perubahan emosi. Sejumlah orang tua suka memaksa, kehilangan kesabaran mengahadapi ketidakmampuan anaknya, meninggikan suara dengan nada mencemooh atau putus asa, bahkan ada yang mencap anaknya “tolol”–pendek kata, menjadi mangsa ke arah kecendrungan-kecendrungan yang sama ke arah penghinaan dan kebencian yang menggerogoti kehidupan perkawinan. Namun orang tua lainnya bersikap sabar terhadap kesalahan yang dibuat anaknya, membantu anak mencoba sebuah permainan menurut caranya sendiri, bukannya memakasakan kehendak mereka. pada artikel yang lain anda bisa melihat ada beberapa gaya mendidik anak yang secara emosional pada umumnya tidak efisien
Agar orangtua menjadi pelatih yang efektif dalam bidang pendidikan emosional anak ini, mereka harus mempunyai pemahaman-pemahaman yang baik tentang dasar-dasar kecerdasan emosional. Salah satu pelajaran emosi yang mendasar bagi seorang anak adalah bagaimana membedakan perasaan; seorang ayah yang tidak merasakan kesedihannya sendiri, misalnya tak mungkin menolong putranya memahami perbedaan antara sedih karena seseorang yang meninggal, sedih karena menonton film yang mengharukan, dan kesedihan yang muncul bila sesuatu yang buruk terjadi pada seseorang yang disayangi anak. Selain pembedaan ini, terdapat juga pemahaman-pemahaman yang lebih canggih, misalnya amarah seringkali dipicu oleh perasaan sakit hati.
Sewaktu anak-anak tumbuh, pelajaran-pelajaran emosi khusus yang siap mereka terima –dan mereka butuhkan –berubah-ubah, pelajaran dalam hal empati dimulai pada masa bayi- pada masa ini orangtua menyetalakan diri dengan perasaan bayinya. Meskipun beberapa ketrampilan emosional diasah dengan teman-teman selama bertahun-tahun, orangtua yang terampil secara emosional dapat sangat membantu anak dengan memberi dasar ketrampilan emosional berikut ini ; belajar bagaimana mengenali, mengelola, dan memanfaatkan perasaan-perasaan; berempati; dan menangani perasaan-perasaan yang muncul dalam hubungan-hubungan mereka. Dampak pendidikan keluarga semacam ini terhadap anak-anak sangatlah luas. Penenlitian menunjukkan bahwa bila dibandingkan dengan orang tua yang tidak terampil menangani perasaaan, orangtua yang terampil secara emosional memiliki anak-anak yang pergaulannya lebih baik dan memperlihatkan lebih banyak kasih sayang kepada orangtuanya, serta lebih sedikit bentrok dengan orangtuanya. Selain itu anak-anak ini juga lebih trampil mengelola emosinya, lebih efektif menenangkan diri saat marah, dan tidak sering marah. Secara biologis, anak-anak juga lebih santai dan memiliki kadar hormon stress dan indikator fisiologis pembangkitan emosi yang lebih rendah. Keuntungan-keuntungan lannya bersifat sosial; anak-anak ini lebih populer dan lebih banyak disukai temannya dan oleh para gurunya dianggap anak yang lebih pandai bergaul. Orangtua dan gurunyapun menilai anak-anak ini tidak banyak mempunyai masalah tingkah laku, seperti kasar atau agresif. Terakhir, manfaat-manfaat ini bersifat kognitif. anak-anak ini dapat berkonsentrasi dengan lebih baik. Seandainya IQ nya sama, maka anak yang memiliki orang tua yang terampil sacara emosional, pada usia 5 tahunan, akan memiliki angka prestasi lebih tinggi dalam matematika dan membaca saat anak-anak tersebut mencapai usia SD (alasan kuat untuk mengajarkan ketrampilan emosional untuk mempersiapkan anak belajar maupun hidup). Oleh karena itu, keuntungan bagi anak-anak yang orangtuanya terampil secara emosional adalah serangkaian manfaat yang menakjubkan, yang mencakup seluruh spektrum kecerdasan emosional bahkan lebih.
Prinsip Utama Mengelola Emosi Anak
“Mengapa ya anakku begini,padahal seharusnya dia tidak begini di usianya yang sekarang” “Mengapa ya anakku begitu padahal anak lain yang seusianya, bahkan yang lebih muda darinya tidak begitu”
Umumnya kita (orang tua) mempertanyakan tingkah polah / prilaku anak-anak. Hal ini terjadi karena kurangnya pemahaman kita terhadap karakter dasar dari anak kita. Padahal setiap anak memiliki keperibadian / karakteristik/ prilaku yang berbeda dan unik. Bagaimanapun respon emosi anak seringkali mengikuti pola yang sama sepanjang hidupnya. Respon ini BIASANYA dipengaruhi oleh temperamen.
Temperamen itu apa sih? Temperamen adalah reaksi khas dari seseorang terhadap terhadap orang lain atau keadaan.
Ada 3 temperamen yang biasanya ada pada seseorang. Memang tidak semuanya berlaku seperti itu, tetapi adanya perpaduan dari ketiga pola ini merupakan hal yang normal.
Anak yang mudah (easy child). Secara umum, anak itu terlihat bahagia, fungsi biologisnya mempunyai ritme yang jelas, mudah menerima pengalaman baru. JIka frustasi tidak mudah rewel, cepat beradaptasi terhadapa rutinitas baru atau aturan permainan yang baru.
Anak yang sulit (difficult child). Mudah terganggu dan sulit ditenangkan, ritme biologisnya tidak beraturan, sering mengekspresikan emosinya.
Anak yang bereaksi perlahan (slow to worm up child). cenderung untuk bereaksi perlahan-lahan dan membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan orang lain dan situasi baru. (A. Thomas & Chess, 1977).
Mungkin banyak yang membayangkan bahwa anak yang sulit akan menimbulkan banyak persoalan. perlu diketahui bahwa semua tipe ini bisa saja menimbulkan masalah, jika kita sebagai orangtua tidak bisa memberi perlakuan yang tepat terhadap kebutuhan-kebutuhan anak.
Nah jika orang tua sudah dapat memahami temperamen anaknya, tentunya orangtua juga dapat mempersiapkan perlakuan yang tepat agar anak dan orangtua tidak mengalami kesulitan dikemudian hari. Misalnya untuk anak yang sulit beradaptasi dengan lingkungan baru, maka orangtua berusaha membekali anaknya dengan pengetahuan-pengetahuan atau keterampilan-keterampilan yang bisa dipergunakan pada saat itu.Orangtua berperan untuk membantu perkembangan emosional anaknya. Orangtua harus bisa menjadi contoh dan tauladan bagi anaknya. Kasih sayang orangtua membantu mencerdaskan emosi anak. Akan tetapi kasih sayangpun perlu diimbangi dengan pola asuh yang cerdas pula supaya anak bisa tumbuh sebagai individu yang bukan hanya cerdas otaknya tapi juga cerdas emosinya. Berikut ini prinsip-prinsip utama yang harus diterapkan orangtua dalam mengelola emosi anak:
Tidak Ada Perasaan Yang Salah
Reaksi emosional anak sebenarnya sangat manusiawi, perasaan marahnya merupakan reaksi kimiawi tubuh sama seperti reaksi-reaksi tubuh lainnya seperti rasa mengantuk akibat kurang tidur, rasa sakit akibat tertusuk benda tajam dll. Biasanya reaksi tersebut berdasarkan atas yang dirasakannya. Pada anak marah merupakan reaksi emosi yang paling sering ditunjukkan dibanding reaksi yang lain. Misalnya saja rasa iri antara adik dan kakak. Perasaan iri tersebut sebenarnya sama besarnya yang membedakan adalah kemampuan masing-masing dalam mengendalikan emosinya.
Mengungkapkan Perasaan Secara Bijak
Mengungkapkan perasaan bertujuan untuk mengurangi tekanan distruktif pada diri sendiri. Kemampuan anak dalam mengungkapkan perasaan terkait dengan kemampuan anak mengendalikan diri. Untuk mengungkapkan perasaan akan lebih baik dengan mendinginkan kepala terlebih dahulu sampai emosi reda baru kemudian menyampaikan apa yang kita rasakan dan penyebabnya untuk mendiskusikan solusinya.
Meletakkan Harapan Sesuai Kemampuan Anak
Anak-anak memiliki keterbatasan pemahaman maupun control terhadap dirinya. Harapan Orangtua hendaknya disesuaikan dengan pola perkembangan anak sesuai dengan usianya. Anak usia 2 th perbendaharaan katanya kurang sehingga anak lebih banyak mengungkapkan amarah dengan memukul, menangis, membanting dll, berbeda dengananak usia 3-5 th. Di usia ini anak sudah bisa diajak mengungkapkan perasaan marahnya karena anak dudah lebih banyak menguasai perbendaharaan kata dan sudah bisa melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain di sekitarnya.
Menjadi Model Yang Terbaik
Orangtua merupakan Contoh atau model utama dari anak-anaknya. Orangtua harus bisa mengendalikan diri saat bertingkah laku di depan anak-anaknya dan mendorong anak untuk berperilaku secara positif. Orangtua harus memberi contoh bagaimana mengatasi kemarahan dan kekecewaannya dengan sikap tenang dan bantulah anak memehami apa yang diteladaninya.
Bersikap Konsekuen
Bicarakanlah terlebih dahulu aturan-aturan yang harus ditaati anak. Dan buatlah kesepakatan bersama serta apa hukumannya jika anak melanggar aturan tersebut untuk mengajarkan konsekuensi. Jelaskan tujuan serta alasan kita menerapkan aturan tersebut dengan bahasa yang mudah dimengerti. Jelaskan pula mengapa aturan-aturan tersebut berbeda-beda untuk orang yang berbeda. Dan jika peraturan antara orangtua dan anak kebetulan sama orangtua harus bisa menjadi panutan dengan bersikap konsekuen bila melanggar aturan dan harus mau menerima konsekuensinya. Sumber : “Membantu Anak Balita Mengelola Amarahnya” Seri Cerdas Emosi dari Kak Seto Mulyadi
Strategi Untuk Membantu Anak Mengelola Rasa Takut
Perasaan takut merupakan salah satu bentuk emosi yang harus dihadapi anak dalam kehidupan sehari-hari. Rasa takut dianggap sebagai emosi yang negative, walaupun sebenarnya rasa takut bisa membantu kita untuk menyadari dan merespon bahaya. Akan tetapi jika rasa takut dan cemas tersebut dibiarkan berlarut-larut dapat membuat hidup anak menjadi sulit. Akibatnya anak jadi susah makan, susah berkonsentrasi, sering ngompol tatau tidak bisa menikmati bermain dengan tenang dengan teman-temannya.Setiap anak pastilah mempunyai rasa ketakutannya tersendiri. Penyebab ketakutan-ketakutan itu juga pasti berbeda-beda. Sebagai orangtua tentu diharapkan untuk membantu anak mengatasi rasa takut anak dengan mencari pemicu rasa ketakutan anak tersebut. Setelah mengetahui pemicu ketakutan anak, orangtua perlu membantu anak untuk mengatasi rasa takutnya agar anak tidak merasa sendirian dalam menghadapi perasaan yang mengganggunya tersebut. Berikut strategi yang bisa digunakan orangtua untuk mengelola rasa takut anak. 1. Menumbuhkan Keyakinan Anak Pada Tuhan. Orangtua bisa mendengarkan ketakutannya dan membimbing anak untuk mengatasi masalah tersebut secara spiritual dengan membantu anak selalu mengingat Tuhan. 2. Membantu Anak Memisahkan Kenyataan Dengan Imajinasi Ketakutan anak yang bersifat Imajinatif bisa diatasi dengan mengembangkan percakapan yabg positif dengan anak. Misalnya anak takut pada badut beri anak pengertian dan contoh kenapa teman-temannya tidak takut pada badut, bahwa badut itu tidak menyeramkan, tidak berbahaya dan tidak bisa menyakiti anak. 3. Membantu Anak Menghadapi Masalah Nyata dalam Skala Yang Aman Tunjukkan pada anak bahwa kebanyakan hal yang ia takutkan sebenarnya sama sekali tidak menyeramkan dan tidak berbahaya. 4. Menekankan Pada Anak Bahwa mengekspresikan Perasaan Bukanlah Sesuatu Yang Salah. Kebanyakan anak sulit membicarakan perasaannya karena anak-anak sangat sensitive terhadap respon orang dewasa ketika anak menunjukkkan perasaannya. Hal seperti ini tidak sehat terhadap perkembangan jiwa anak. Orangtua perlu menekankan pada anak untuk menceritakan setiap perasaannya tanpa perlu merasa takut. Katakan pada anak bahwa dengan mengungkapkan perasaan akan membuat anak semakin cepat merasakan lebih baik. 5. Mendorong Anak untk Menuliskan atau Menggambarkan perasaannya Rangsanglah anak untuk menuliskan atau menggambarkan hal-hal buruk apa saja yang ia bayangkan sehubungan dengan rasa takutnya. Kemudian mintalah anak membayangkan dan menggambarkan dirirnya dapat menghadapi ketakutannya dengan sukses. Pajang Gambar tersebut ditempat yang mudah ia lihat supaya anak termotivasi untuk mengatasi rasa takutnya. 6. Menyiapkan Benda Yang Dapat Membantu Anak Mengatasi Rasa Takutnya. Orangtua bisa meminta anak menyimpan atau membawa apa saja yang dapat membantu anak mengurangi rasa takutnya. Misalnya menyuruh anak membawa dan menyimpan foto orangtuanya sebagai pengingat saat anak hendak ditinngal orangtua pergi keluar kota. 7. Membantu Anak Melawan Ketakutannya dengan Memberi Pengetahuan Berilah alasan kenapa hal-hal yang ditakutinya itu tidak perlu ditakutkan, beri anak keterangan. Namun tetaplah berhati-hati dan mengutamakan keselamatan aank 8. Mintalah Anak Menarik Nafas Dalam-dalam Saat Takut atau Gugup Ajarkan anak cara-cara untuk menenangkan diri dan mengendurkan ketegangan dengan menarik nafas dalam-dalam saat takut atau gugup. 9. Membantu Anak Berpikir Positif dan Berilah Pujian Berilah semangat pada anak untuk berpikir positif daripada membayangkan kemungkianan terburuk. Beri anak keyakinan bahwa ia mampu mengatasi rasa takutnya. Berilah pujian saat anak dah berhasil mengatasi rasa takutnya. 10. Jadilah Contoh Orangtua merupakan contoh bagi anak-anaknya. Orangtua tidak boleh panik bila menghadapi suatu situasi social karena anak-anak akan meniru kecemasan orangtua. 11. Perhatikan Apa yang Anak Lihat dan Baca Orangtua hendaknya mendampingi anak ketika anak menonton televisi atau membaca buku. Pilihlah tayangan-tayangan dan buku-buku yang mendidik. Jelaskan gambar-gambar atau cerita-cerita yang menakutkan bahwa itu hanya rekayasa atau bohongan atau tidak benar-benar terjadi. 12. Mintalah Bantuan Ahli jika Dirasa Kasusnya Lebih Berat Mengatasi ketakutan tidaklah mudah. Orangtua tidakbisa mengharapkan hasil instan dan jangan memberi cap anak penakut atau pengecut. Jika dirasa ketakutan yang dialami anak serius jangan segan-segan meminta bantuan ahli (psikolog, psikiater, konselor atau terapis) karena para ahli dapat mengenali masalah-masalah anak dan menyarankan solusi yang tepat. Sumber: “ MembantuAnak Balita Mengelola Ketakutannya”. Dr. Seto Mulyadi, M. Psi
Alasan Mengapa Kita Tidak Boleh Memukul Anak
Sebagian orang tua masih rajin menerapkan hukuman fisik bila anaknya melakukan kesalahan. Orang tua berdalih, dengan memberikan hukuman fisik, seperti menampar-memukul, adalah sesuatu yang wajar agar si anak menjadi penurut, tidak bandel, dan tentunya ingin anak kelak menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa. Dibenarkankah mendidik anak dengan kekerasan fisik? Menurut sosiolog Prof. Murray Straus, makin tinggi persentase orang tua memberi hukuman fisik kepada anaknya, maka semakin rendah IQ anak. Bahkan semakin sering orang tua memukul anak akan membuat perkembangan mental anak akan menjadi lambat. Anak yang sering mendapat perlakuan kasar maupun keras dari orang tuanya akan membuat anak minder, tidak mau bergaul dengan teman sebayanya dan maunya mengurung diri atau bermain sendiri di kamar. Psikolog Dr. Rahli Briggs dari New York mengatakan, berdisiplin merupakan kesempatan baik untuk mengajarkan sesuatu kepada anak. Tetapi bila orang tua memukul, maka dia akan mengajari anak bahwa dengan cara kekerasan itu akan menyelesaikan masalah atau untuk menangani suatu situasi. Jangan sampai budaya kekerasan diterapkan dalam keluarga dan masyarakat. Dalam hasil studi menunjukkan bahwa stres mengubah arsitektur otak anak dan merusak saraf tertentu. Jadi, kalau orang tua tahunya hanya memukul, maka itu sama saja dia tidak mengajarkan apa-apa tentang kebaikan. Mulai sekarang bila hendak mengajarkan anak, jadikan dia sebagai teman kita. Jauhkan segala sesuatu yang bersifat kekerasan. Dengan penuh kasih sayang dalam mengajar anak-anak, maka kita telah menciptakan budaya senyum tanpa kekerasan dalam rumah tangga. Berikut ini 8 alasan kenapa Anda sebaiknya tidak memukul anak: 1. Memukul anak malah mengajarkan mereka untuk menjadi orang yang suka memukul. Cukup banyak penelitian yang menunjukkan bahwa anak yang sering dipukul memiliki perilaku agresif dan menyimpang saat mereka remaja dan dewasa. Anak-anak secara alami belajar bagaimana harus bersikap melalui pengamatan dan meniru orangtua mereka. Makanya jika Anda suka memukul, saat dewasa nanti mereka pun akan menganggap apa yang Anda lakukan itu memang boleh dilakukan. 2. Anak-anak berperilaku tidak baik biasanya karena orangtuanya atau orang yang mengasuhnya melupakan kebutuhannya. Kebutuhan itu diantaranya, tidur yang cukup, makanan bernutrisi, udara segar dan kebebasan mengeksperikan diri untuk bereksplorasi. Orangtua terkadang melupakan kebutuhan anak tersebut karena terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri. Ditambah lagi stres yang melanda membuat orangtua jadi cepat emosi saat anak mulai menunjukkan sikap tidak baiknya. Sangat tidak adil jika akhirnya anak dipukul hanya karena sikap tidak baiknya yang awalnya sebenarnya adalah kesalahan orangtua. 3. Hukuman malah membuat anak tidak belajar bagaimana seharusnya menyelesaikan konflik dengan cara yang efektif dan lebih manusiawi. Anak yang dihukum jadi memendam perasaan marah dan dendam. Anak yang dipukul jadi tidak bisa belajar bagaimana menghadapi situasi yang sama di masa depan. 4. Hukuman untuk anak dengan kekerasan bisa mengganggu ikatan antara orangtua dan anak. Ikatan yang kuat seharusnya didasari atas cinta dan saling menghargai. Jika Anda memukul anak, dan anak kemudian menuruti perkataan Anda, apa yang dilakukannya itu hanya karena dia takut. Sikap itu pun tidak akan bertahan lama karena pada akhirnya anak akan memberontak lagi. 5. Anak yang mudah marah dan frustasi tidaklah terbentuk dari dalam dirinya. Kemarahan tersebut sudah terakumulasi sejak lama, sejak orangtuanya mulai memberinya hukuman dengan kekerasan. Hukuman itu memang pada awalnya sukses membuat anak bersikap baik. Namun, saat anak beranjak remaja dan menjadi dewasa, hukuman itu malah menjadi buah simalakama. 6. Anak yang dipukul di bagian sensitifnya, bisa membuat anak mengasosiasikan hal itu antara rasa sakit dan kenikmatan seksual. Pemikiran tersebut akan berdampak buruk, terutama jika anak tidak mendapat banyak perhatian dari orangtuanya, kecuali hanya saat dihukum. Anak yang mengalami hal tersebut akan tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri. Mereka percaya, mereka tidak layak mendapatkan hal yang lebih baik. 7. Hukuman fisik bisa membuat anak menangkap pesan yang salah yaitu ‘tindakan itu dibenarkan’. Mereka merasa memukul orang lain yang lebih kecil dari mereka dan kurang memiliki kekuatan, memang dibolehkan. Saat dewasa, anak ini akan tumbuh menjadi orang yang kurang memiliki kasih sayang pada orang lain dan takut pada orang yang lebih kuat dari mereka. 8. Berkaca dari orangtuanya yang suka memukul, anak belajar kalau memukul merupakan cara yang bisa dilakukan untuk mengeksperikan perasaan dan menyelesaikan masalah. Oleh karena itu, sungguh memukul anak bukanlah cara yang tepat untuk mendidik mereka atau membuat mereka jadi orang yang lebih baik.
Sekarang ini banyak anak yang malas untuk belajar. Begitu mendengar kata “belajar”, anak-anak pasti segera mencari berbagai alasan untuk menghindarinya. Akibatnya belajar hanya akan menjadi acara yang kepepet dilakukan atau terpaksa karena mau menghadapi ujian. Itu pun kalau bukan didorong atau dipaksa orang tuanya, belum tentu si anak mau belajar.
Mereka pasti lebih suka bermain dengan teman-teman, bermain komputer atau internet (seperti facebook, twitter dan lain-lain) atau bermain video game ketimbang disuruh belajar. Bagi mereka, belajar merupakan sesuatu yang membosankan.
Dari yang saya lihat di sekitar lingkungan saya, anak yang disuruh belajar cuma akan membuka buku dan membaca sebentar. Atau cuma mengerjakan PR, lalu ditutup dan ditinggalkan. Kalau si anak ditanya, dia pasti menjawab kalau dia sudah belajar.
Apakah belajar itu memang hanya membaca sekilas dan mengerjakan PR? Kalau seperti itu, bagaimana pengetahuan si anak bisa bertambah? Bagaimana pelajaran sekolah si anak bisa terserap? Paling-paling juga cuma selintas yang bisa dia serap.
Membayangkan disuruh belajar saja sudah membuat si anak tertekan atau stres. Akibatnya suasana hatinya untuk belajar jadi hilang dan si anak menjadi malas untuk memulai belajar. Mengapa hal seperti itu bisa terjadi?
Pemikiran anak terbentuk dari asumsi-asumsi yang diambil dari informasi-informasi atau pun pengalaman yang dialami si anak tanpa dikritisi terlebih dahulu. Berarti, itu semua kembali pada cara pandang kedua orang tua, guru, dan lingkungan sekitar.
Salah satu hal yang sering menghambat anak rajin belajar adalah pandangan ideal kedua orang tua atau guru terhadap kenyataan yang ada pada diri si anak. Mereka hanya memandang keburukan-keburukan si anak. Mereka malah gagal menunjukkan nilai-nilai positif, harapan dan kelebihan-kelebihan si anak.
Jika itu yang terjadi, maka si anak tidak akan termotivasi menjadi lebih baik. Padahal kesuksesan seorang anak tergantung bagaimana kita memandang dan meyakini kelebihan dan kekurangan seorang anak. Dengan begitu sang anak termotivasi menjadi sukses.
Pemberian “label” positif oleh kedua orang tua akan berkembang menjadi hal-hal yang positif dalam diri si anak. Karena itu kita harus berhati-hati dalam berucap dan bertindak. Bila potensi dan kelebihan anak belum Nampak, maka kita hanya perlu bersabar. Dengan terus menggali potensi-potensi terpendam dalam diri si anak, lama-kelamaan potensi-potensi itu bisa muncul dan terus berkembang.
Cara Jitu Hadapi Anak Yang Ngambek
Apa yang mesti anda lakukan jika tiba-tiba anak anda ngambek gara-gara ingin mendapatkan suatu barang yang diinginkannya tidak terpenuhi. Mungkin perasaan anda tidak enak karena pasti orang akan mengira anda tidak becus mengurus anak. Daripada ribut, akhirnya Anda pun mengalah, meluluskan permintaan si kecil. Menurut psikolog anak, Dr. Seto Mulyadi, orangtua tak perlu malu bila anaknya tiba-tiba bertingkah tak menyenangkan di depan umum. Toh, orang lain pun tahu kalau ini bukan masalah orangtua, tapi masalah anak-anak. “Justru yang perlu diupayakan adalah menenangkan si anak agar tak lebih lama mengganggu ketenangan umum. Dengan tegas, angkatlah ia dan ajak pulang. Pengalaman saya, tatap mata anak dan ajak ia pulang. Jangan tatap anak dengan kesal atau memelototinya, ia akan tahu itu dan akan makin keras mengamuk,” terang Doktor Psikologi lulusan Program Pasca Sarjana UI ini. Kata Seto, lebih baik tatap mata si anak dengan penuh kasih. Ia akan mengerti, ibu atau ayahnya tetap menyayanginya dan permintaannya bisa dibicarakan di rumah. JADI SENJATA Yang jelas, wajar jika anak kecil gampang meledak atau ngambek. Terlebih anak usia di atas 2 tahun. Saat itu ia sudah dapat mengekspresikan kemarahan, kekecewaan, atau kecemasannya. “Untuk anak yang berusia di bawah 2 tahun, sangat gampang mengalihkannya. Misalnya saat ia ngambek, kita tunjukkan cicak di dinding. Atau tunjukkan ia gambar,” bilang Seto. Lain hal dengan anak usia 2 tahun di mana egonya mulai tumbuh. Ia ingin orang lain mengakui keberadaannya. Dengan cara diam, tak mau berpartisipasi atau berguling- guling, ia ingin orang lain mengerti akan kehadiran “aku”-nya yang baru. Ia pun sangat mementingkan diri sendiri. Apa yang diinginkannya harus dituruti segera dan saat itu juga. Celakanya, jika perilaku tak baik ini tak ditanggulangi dengan baik, maka akan terus berkembang hingga dewasa. “Itu sebabnya ngambek harus diwaspadai sebagai cikal-bakal berbagai tingkah negatif setelah dewasa kelak. Bisa saja kalau keinginannya tak terpenuhi, lantas minggat dari rumah,” jelas Seto. Apalagi, anak belajar dari lingkungan. Ia akan belajar bagaimana lingkungan meresponnya. Kalau ia ngambek lalu orangtuanya menuruti kehendaknya, maka ngambek akan dijadikan senjata untuk menarik perhatian “kekuasaan” atau orangtua. Dan tingkat ngambeknya juga akan terus meningkat. Beda jika ia ngambek, masalahnya dicoba dipecahkan. Alhasil, ia tak bisa menggunakan hal itu sebagai senjata. Dengan demikian, jika ia menginginkan sesuatu, ia tak akan ngambek, tapi mengacu pada sistem. UNGKAPAN PROTES Yang biasanya terjadi, anak ngambek untuk mengungkapkan protesnya atas kesewenangan orangtua. Terutama pada keluarga yang komunikasinya kurang efektif. Entah karena ayah-ibu yang terlalu sibuk sehingga perhatian pada si kecil sangat kurang, atau karena orangtua terlalu otoriter dan mau menang sendiri. Orangtua selalu memaksakan kehendaknya, sehingga tak pernah mendengar hati nurani anak. “Nah, anak akan merasa diperlakukan tak adil!” tukas Seto. Misalnya saja, pada saat anak minta mainan, orangtua langsung bilang, “Tidak! Mainan kamu sudah terlalu banyak!” Padahal mungkin saja mainan yang banyak itu dibeli atas inisiatif orangtuanya yang saat membeli, suasana hatinya sedang senang, uang lagi banyak. Padahal, bisa saja si anak sebenarnya sedang tak butuh mainan. Nah, giliran ia memerlukan, justru orangtua berkata tidak. Anak pun merasa diperlakukan tak adil. Semuanya hanya dilihat dari sudut pandang orangtua, tak melalui suatu dialog yang demokratis. Akibatnya, anak frustrasi dan perasaan itu dilampiaskannya dengan cara ngambek. METODE ANTI KALAH Harus bagaimanakah kita bersikap? Yang jelas, kita mesti lebih membuka diri, sehingga anak dapat melampiaskan keinginan-keinginannya secara wajar. “Jadilah pendengar yang baik,” anjur Seto. Saat kumpul bersama keluarga, misalnya, ayah dan ibu harus mau mendengar dan menerima permintaan atau keluhan-keluhan anak. Jika anak minta dibelikan buku dan stiker, misalnya, tanyakan padanya, apakah itu sebuah kebutuhan atau keinginan. “Mana yang paling perlu? Buku atau stiker?” Anak pun akhirnya belajar, mana yang penting dan tidak. Kalaupun ia ingin protes, boleh-boleh saja sepanjang diwujudkan dalam bentuk kata-kata dan bukan tingkah laku ngambek atau membanting pintu. Tak ada salahnya anak ikut tahu kondisi keuangan ayah dan ibunya sehingga ia tahu persis, orangtua belum bisa memenuhi keinginannya. “Jadi, semuanya harus melalui dialog atau komunikasi,” tandas Seto. Cara lain untuk mengendalikan anak ngambek, adalah metode “anti-kalah” atau musyawarah dalam keluarga. “Tak ada yang kalah atau menang.” Lagi-lagi, dengan cara membuka dialog. Misalnya, “Yuk, kita bicarakan hal ini di rumah. Apa yang kamu mau, akan kita bicarakan dulu. Kalau memang diputuskan untuk dibeli, kita bisa kembali lagi besok.” Alhasil, titik temu yang memuaskan kedua belah pihak pun didapat. “Anak juga sekaligus belajar bahwa ia tak akan berhasil memenuhi keinginannya dengan cara ngambek,” kata Seto. TENANG DAN KONSISTEN Seto mengakui, memang bukan pekerjaan mudah mengajak bicara anak kecil yang tengah ngadat. Ia akan melawan, bersikukuh, alias mau menang sendiri. “Makanya, hadapi ia dengan sikap tenang. Kalau kita tampak panik, malu, atau marah-marah, anak malah jadi tambah bertingkah. Tenang, senyum, dan perlihatkan kita tetap menghargainya. Nah, biasanya ngambeknya akan sedikit lumer,” papar anggota Creative Education Foundation ini. Orangtua bisa berujar, “Ibu tahu kamu kecewa, sedih. Sekarang kita pulang dulu, yuk! Nanti kita bicarakan di rumah. Ibu mau dengar apa maumu.” Lewat ucapan seperti itu, anak tahu, kita mengerti akan kemarahan atau kekecewaannya dan kita bisa menerimanya sebagai sesuatu yang wajar. “Anak juga akan sadar, ia boleh marah tapi cara marahnya harus baik. Tidak dengan berguling-guling di depan umum. Dari situ ia akan merasa dihargai,” lanjut anggota World Council for Gifted & Talented Children ini. Di sisi lain, anak juga menjadi paham, ayah atau ibunya sudah berubah. Yang biasanya marah-marah, sekarang tak begitu lagi. “Tentunya orangtua harus konsisten dengan ucapannya. Tiba di rumah, ia harus mau mendengarkan keluhan-keluhan anak dan sama-sama mencari pemecahannya,” kata Seto. BIKIN “PERJANJIAN”
Sikap pasif orangtua saat anaknya ngambek dengan cara membiarkan atau meninggalkan anak, tak terlalu disetujui pakar psikologi anak ini. “Ada kan, orangtua yang begitu. Anaknya dibiarkan dengan harapan kemarahan anak akan reda dengan sendirinya. Padahal, justru sikap seperti itu bisa membuat anak makin kecewa dan frustrasi. Bisa saja ngambeknya kemudian dialihkan di rumah karena masalah utamanya tak diselesaikan,” tutur anggota International Council of Psychologists ini. Padahal, tutur Seto lebih jauh, tak ada salahnya orangtua bersikap sedikit “merendah” dalam arti mau mendengarkan anak. Sebaliknya, orangtua pun harus berani mengungkapkan segala perasannya secara jujur. Kalau ingin marah, ya, kemukakan saja. Misalnya, “Ibu marah, lo, kalau kamu bersikap begini. Ibu kecewa.” Jika anak tetap sajangambek, berarti masih ada kebutuhan yang tak terpenuhi. Bisa saja orangtua belum sadar tentang hak-hak anak. Hak untuk bermain, berpartisipasi, dan didengarkan oleh lingkungannya. “Tidak jadi robot terus!” tukas Seto. Jika ia tak mendapat hak-hak tadi, “Anak akan mengalami hambatan dalam tumbuh kembangnya,” tandas peraih penghargaan The Golden Baloon Award, New York ini. Selain itu, Seto juga menyarankan agar para orangtua bisa mengantisipasi peristiwa-peristiwa yang rawan konflik. Misalnya, kalau kemungkinan ia akan ngadat saat diajak ke mal, persiapkan sebelumnya. “Mama mau ajak kamu ke mal, tapi janji, hanya boleh minta satu barang saja. Kamu nanti mau minta apa? Stiker atau boneka? Pilih salah satu, tidak boleh lebih dari itu.” Nah, karena si kecil dilibatkan dalam perencanaannya, ia pun biasanya akan menepati janji karena merasa dirinya dihargai. Bisa juga ditambahkan dalam “perjanjian” itu, apa sanksinya jika si kecil ingkar janji. Misalnya, pada kepergian berikut, ia tak boleh ikut lagi. HUKUMAN DAN PUJIAN Dengan menegakkan demokrasi di rumah, anak akan terhindar dari rasa frustrasi. Sebab itulah, sejak anak bisa diajak bicara, sebaiknya biasakan diajak bicara. Anak pun akan merasa dihargai. “Kalau ia biasa dihargai, dipercaya, dan egonya diakui, maka ia akan lebih percaya diri dan tidak mudah ngambek,” kata Seto. Perlukah hukuman diberlakukan dalam hal ini? “Bisa saja, tapi bukan dalam bentuk pukulan atau cubitan. Melainkan dalam bentuk tak dipenuhinya keinginan itu. Biasanya ibu senyum, kok, kali ini tidak dan mukanya datar. Itu saja bagi anak yang peka sudah berarti hukuman,” jelas Seto. Namun, jangan lupa pula memberinya pujian jika ia berkelakuan baik dan dapat menghilangkan sifat ngambeknya. Sumber : tabloid-nakita.com
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjVQGLIrJBC5xT3z3jWBctegYZN0Tv97DrmcjTzeaxMMlcv0HigK57rh3syn4YQZsrcwLX2GS5Yp9WvyXerJ6UFgcPRLG2dGTq8Y0jeoElsI2D6bqp6jPDEJ9jU_BHYlXTy2zRX_gOamzQ/s1600/Ngambek%20Cara%20Menunukkan%20Rasa%20Marah%20Pasif%20Agresif.jpg
Be Sociable, Share!
TUGAS PERKEMBANGAN PRIBADI INDIVIDU, PENDIDIKAN DAN KARIER
II.A Perkembangan Kehidupan Pribadi Sebagai Individu. II.A1. Pengertian Kehidupan Pribadi dan Kharakteristiknya. Pengertian kehidupan itu sangat kompleks dan unik. Pada hakikatnya manusia adalah pribadi yang utuh dan memiliki sifat sebagai mahluk individu dan sosial. Sebagai individu seseorang menyadari memiliki kebutuhan untuk kepentingannya sebagai pribadi, baik fisik dan non fisik. Untuk fisiknya manusia perlu kekuatan dan daya tahan tubuh serta keamanan yang penting untuk perkembangan dan pembentukkan pribadi seseorang. Kehidupan pribadi menyangkut beberapa aspek yaitu aspek emosional, sosial psikologis dan sosial budaya, dan kemampuan intelektual terpadu secara integratif dengan faktor lingkungan kehidupan. Pada dasarnya setiap manusia ingin bisa hidup mandiri terutama dalam memenuhi kebutuhannya. Untuk itu di perlukan penguasaan situasi untuk menjaga kestabilan. Kekhususan kehidupan pribadi bermakna bahwa segala kebutuhan dirinya memerlukan pemenuhan dan terkait dengan masalah-masalah yang tidak dapat disamakan dengan individu yang lain. Oleh karenanya, setiap pribadi akan dengan sendirinya menampakkan cirri yang khas yang berbeda dengan pribadi yang lain. Di samping itu, dalam kehidupan ini diperlukan keserasian antara kebutuhan fisik dan nonfisiknya. Kebutuhan fisik tiap orang perlu pemenuhan, misalnya seseorang perlu bernapas dengan lega, perlu makan enak dan cukup, perlu kenikamatan, dan perlu keamanan. Berkaitan dengan aspek sosio-psikologis, setiap pribadi membutuhkan kemampuan untuk menguasai sikap dan emosinya serta sarana komunikasi untuk bersosialisasi. Hal itu semua akan tampak secara utuh dan lengkap dalam bentuk perilaku dan perbuatan yang mantap. Dengan demikian, masalah kehidupan pribadi merupakan bentuk integrasi antara factor fisik, sosial budaya, dan factor psikologis. Di samping itu, seorang individu juga membutuhkan pengakuan dari pihak lain tentang harga dirinya, baik dari keluarganya sendiri maupun dari luar keluarganya. Tiap orang mempunyai harga diri dan berkeinginan untuk selalu mempertahankan harga diri tersebut. II.A2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Pribadi Perkembangan pribadi menyangkut perkembangan berbagai aspek, yang akan ditunjukan dalam perilaku. Perilaku seseorang yang menggambarkan perpaduan berbagai aspek itu terbentuk di dala lingkungan. Sebagaimana diketahui, lingkungan tempat anak berkembang sangat kompleks. Seseorang individu, pertama tumbuh dan berkembang di lingkungan keluarga. Sesuai dengan tugas keluarga dalam melaksanakan misinya sebagai penyelenggara pendidikan yang bertanggung jawab, mengutamakan pembentukan pribadi anak. Dengan demikian, faktor utama yang mempengaruhi perkembangan pribadi anak adalah kehidupan keluarga beserta berbagai aspeknya. Seperti telah diuraikan di bagian terdahulu, perkembangan anak yang menyangkut perkembangan psikofisis dipengaruhi oleh : status sosial ekonomi, fisafat hidup keluarga, dan pola hidup keluarga seperti kedisiplinan, kepedulian terhadap kesehatan, dan ketertiban termasuk ketertiban menjalankan ajaran agama. Bahwa perkembangan kehidupan seseorang ditentukan pula oleh faktor keturunan dan lingkungan aliran nativisme menyatakan bahwa seorang individu akan menjadi ”orang” sebagaimana adanya yang telah ditentukan oleh kemampuan an sifatnya yang dibawa sejak ia dilahirkan. Sedangkan aliran empirisme mengatakan sebaliknya bahwa seorang akan menjadi ”manusia” seperti yang dikehendakioleh lingkungan. Kedua aliran itu menggambarkan bahwa faktor bakat dan pengaruh lingkungan sama-sama mempunyai pengaruh terhadap perkembangan pribadinya. Pengaruh-pengaruh itu akan terpadu bersama-sama saling memberi andil ”menjadikan manusia sebagai manusia”. Aliran yang mengakui bahwa kedua aliran itu secara terpadu memberikan pengaruh terhadap kehidupan seseorang adalah aliran konvergensi. Proses pendidikan Indonesia menganut aliran ini, seperti dinyatakan oleh Ki Hadjar Dewantara yaitu ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. I1.A3. Perbedaan Individu dalam Perkembangan Pribadi Lingkungan kehidupan sosial budaya yang mempengaruhi perkembangan pribadi seseorang amatlah kompleks dan heterogen. Baik lingkungan alami maupun lingkungan yang diciptakan untuk maksud pembentukan pribadi anak-anak dan remaja, masing-masing memiliki ciri yang berbeda-beda. Oleh karena itu, secara singkat dapat dikatakan bahwa perkembangan pribadi setiap individu berbeda-beda pula sesuai dengan lingkungan di mana mereka dibesarkan. Dua orang anak yang dibesarkan di dalam satu keluarga akan menunjukkan sifat pribadi yang berbeda, karena hal itu ditentukan oleh bagaimana mereka masing-masing berinteraksi dan mengintegrasikan dirinya dengan lingkungannya. II.A4. Pengaruh Perkembangan Kehidupan Pribadi terhadap Tingkah Laku Kehidupan merupakan rangkaian yang berkesinambungan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Keadaan kehidupan sekarang dipengaruhi oleh keadaan sebelumnya dan keadaan yang akan datang banyak ditentukan oleh keadaan kehidupan saat ini. Dengan demikian, tingkah laku seseorang juga dipengaruhi oleh hasil proses perkembangan kehidupan sebelumnya dan dalam perjalanannya berintegrasi dengan kejadian-kejadian saat sekarang. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa jika sejak awal perkembangan kehidupan pribadi terbentuk secara terpadu dan harmonis, maka dapat diharapkan tingkah laku yang merupakan pengejawantahan berbagai aspek pribadi itu akan baik. Kehidupan pribadi yang mantap memungkinkan seorang anak akan berperilaku mantap, yaitu : mampu menghadapi dan memecahkan berbagai permasalahan dengan pengendalian emosi secara matang, tertib, disiplin, dan penuh tanggung jawab. II.A5. Upaya Pengembangan Kehidupan Pribadi Kehidupan pribadi yang merupakan rangkaian proses pertumbuhan dan perkembangan, perlu dipersiapkan dengan baik. Untuk itu perlu dilakukan pembiasaan dalam hal :
Hidup sehat dan teratur serta pemanfaatan waktu secara baik. Pengenalan dan pemahaman nilai dan moral yang berlaku di dalam kehidupan perlu ditanamkan secara benar.
Mengerjakan tugas dan pekerjaan praktis sehari-hari secar amandiri dengan penuh tanggung jawab.
Hidup bermasyarakat dengan melakukan pergaulan dengan sesama, terutama dengan teman sebaya. Menunjukkan gaya dan pola kehidupan yang baik sesuai dengan kultur yang baik dan dianut oleh masyarakat.
Cara-cara pemecahan masalah yang dihadapi. Menunjukkan dan melatih cara merespon berbagai masalah yang dihadapi.
Mengikuti aturan kehidupan keluarga dengan penuh tanggung jawab dan disiplin.
Melakukan peran dan tanggung jawab dalam kehidupan berkeluarga. Di dalam keluarga perlu dikembangkan sikap menghargai orang lain dan keteladanan.
Di samping perlu diciptakan suasana keteladanan oleh pihak-pihak yang berwewenang, seperti orang tua di dalam keluarga, guru di sekolah, dan tokoh masyarakat dalam kehidupan sosial. Dalam suasana ini yang perlu ditonjolkan antara lain adalah sifat sportif dan kejujuran, berjuang keras dengan berpegang pada prispi yang maton (dapat dipercaya). II.B.Perkembangan Kehidupan Pendidikan dan Karier. II.BI. Pengertian Kehidupan Pendidikkan dan karier Pada hakikatnya setiap manusia selalu ingin tahu, dengan denikian selalu berupaya mengejar pengetahuan. Maka atas dasar ini manusia senantiasa ingin belajar dan mecari tahu banyak hal. Kehidupan pendidikkan merupakan pengalaman proses belajar yang dihayati sepanjang hidupnya, baik melewati jalur pendidikkan atau diluar jalur sekolah. Berkaitan dengan perkembangan peserta didik kehidupan pendidikkan yang dimaksud baik yang dialami remaja sebagai peserta didik di lingkungan keluarga ,sekolah atau masyarakat. Sedangkan kehidupan karir merupakan pengalaman seseorang dalam dunia kerja. Pada dasarnya kehidupan katir pertama remaja dimulai dari kehidupan pendidikkannya. Yang mana memberikan pengalaman secara teori apa yang akan dihadapi. Sekolah menyediakan pelajaran dasar yang belum bermakna sebagai pembekalan anak – anak untuk siap bekerja dan belum terarah kepemberian keterampilan tertentu untuk terjun ke dunia kerja di dalam masyarakat. Sikap remaja terhadap pendidikan sekolah banyak diwarnai oleh karakteristik guru yang mengajarnya. Guru yang baik itu adalah guru yang akrab dengan siswanya dan menolong siswa dalam hal pelajaran. Dalam hal ini guru memberikan bimbingan dan menilai atas dasar objektivitas yang tidak disertai faktor emosional. Sekolah bermaksud untuk mampu memberikan kepada para peserta didik. Sesuai dengan apa yang dibutuhkan dan keadaannya. II.B2. Karakteristik Kehidupan Pendidikkan dan Karier Belajar itu akan lebih berhasil apabila sesuai dengan minat dan kebutuhannya. Cita-cita merupakan yang faktor yang mempengaruhi minatdan kebutuhan pelajar akan pendidikkan. pada usia remaja telah muncul cita-cita dewasa nanti. Usia ini memiliki minat yang jelas untuk cita-cita kariernya nanti. Remaja tahu apa yng harus ia miliki untuk mencapai minatnya dan bagaimana ia harus mempersiapkannya. Yang mana ini berkaitan dengan pendidikkan untuk mencapai ke arah cita-cita itu. Anak masuk SLTP usia 13-14 tahun (usia awal remaja) mulai mengenal sistem baru dalam sekolah, guru yang memiliki berbagai macam sifat dan kepribadiaan. Yang mana perlu ada penyesuaian diri, anak mulai mengenal berbagai mata pelajaran , untuk anak SLTA umur 15-18 tahun adanya pemilihan jurusan telah diperkenalkan. Remaja mulai bersosialisasi dengan teman-temannya dengan mengenal dan tahu banyak latar belakang teman-temannya. Ia mengenal masyarakat baru yaitu sekolahnya, teman-teman sebayanya. Yang mana pada masa ini ada 3 lingkungan yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Menurt UU no 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan jika remaja mempunyai tiga tempat pendiodikan yaitu sekolah, masyarakat dan keluarga.
Lingkungan pendidikkan keluarga
Pendidikkan ini penting bagi remaja yang mana aspek moral dan pembentukkan kepribadian . yang mana sifatnya adalah individual, dalam keluarga orang tua adalah sebagi pendidik sedang anaknya adalah peserta didik. Ada 3 pendidikan yang bercorak otoriter, demokrasi dan liberal.
Masyarakat
Lingkungan alami yang kedua, remaja mengenal nilai-nilai, norma, keragaman. Yang mana remaja mulai belajar menghargai orang lain yang mana banyak perbedaan yang akan menbentuk kelompok-kelompoknya yang punya pandangan yang sama. Yang mana masyarakat menjalankan funsi pendidikkan contoh kursus-kursus yang akan membekali karier para remaja .
Sekolah
Dimana sekolah sengaja di siapkan untuk mengarahkan anak dan memberi kemampuan serta keterampilan sebagai bekal hidupnya. Yang mana remaja melihat sekolah merupakan tempat yang sangat berpengaruh dalam pembekalan menuju kariernya . yang mana remaja jadi menentukkan sekolah mana yang akan ia pilih untuk membantu dalam kariernya nanti. Jalue sekolah atau tidak , sekolah mampu melayani apa yang dibutuhkan untuk mencapai kariernya nanti. II.B3. Faktor-Faktor yang mempengaruhi Perkembangan kehidupan dan karier Orang tua perlu memahami kemajuan pendidikan baik di sekolah maupun di luar sekolah dan di luar keluarga karena dengan norma dan ketentuan yang tidak terlalu jauh berbeda antara rumah, sekolah, dan masyarakat dapat dicapai. Proses pemilihan kerja sebenarnya telah berlangsung sejak dini, di saat anak menetapkan pilihan sekolah. Remaja telah berkemampuan untuk menarik keputusan, sekalipun dasar pertimbangan yang digunakan belum cukup luas, terutama yang berkaitan dengan pandangan masa depan yang belum mantap.Oleh karena itu mereka masih memerlukan arahan atau bimbingan orang tua atau pembimbing. Faktor yang mempengaruhi yaitu ada 3 faktor yitu;
Faktor sosial ekonomi.
Kondisi sosial menggambarkan status orang tua merupakan faktor yang dilihat anak untuk mencapai karirnya. Yang mana kondisi ekonomi tiap keluarga remaja berbeda jika awalnya seorang remaja hidup enak maka ia akan berusaha untuk tetap seperti itu. Faktor biaya merupakan pemicu utama hilangnya masa depan pendidikan anak yang berdampak pada kariernya nanti.
Faktor lingkungan
Ada tiga macam lingkungan yaitu lingkungan masyarakat contoh masyarakat industri, pertanian dan perdagangan dan ada golongan akademik atau lingkungan masyarakat yang terdidik dan terpelajar. Lingkunagn membentuk pola pemikiran remaja, kedua lingkungan kehidupan rumah tangga, sekolah yang amat berpengaruh dalam penentuan karier yang ketiga lingkungan kehidupan teman sebaya, yang memberi pengaruh langsung pada kehidupan pendidikkan . yang mana memberikan peluang untuk jadi dewasa.
Faktor Pandangan Hidup
Pandangan hidup seseorang berbeda-beda, pandangan hidup ini melatarbelakangi adanya pemikiran akan membantu dalam pekerjaan. Secara psikologis remaja telah cukup mampu untuk memikul tanggung jawab dan hidup mandiri dalam kehidupan bermasyarakat. Akan tetapi tidak semua remaja siap menghadapi kondisi masyarakat yang terus berkembang sehingga mereka belum memiliki konsep kehidupan masa depan. Hal ini akan berakibat pada mereka akan tampak tidak memiliki pendirian dan mengalami kesulitan memilih jenis pekerjaan serta tergantung kepada kelompok. II.B4. Pengaruh Perkembangan kehidupan Pendidikkan dan Karier terhadap tingkah laku dan sikap. Pada jenjang dasar dengan kurikulum yang masih umum, sekolah memberikan pelajaran dasar seperti keterampilan yang membantu anak untuk siap kerja dan masuk kedalam dunia kerja masyarakat sementara. Ini memunculakn bermacam pandangan. Banyak yang menyatakan bahwa sekolah kurang membawa manfaat untuk hidupnya (bagi orang yang kurang mampu) yang mana tidak memberi pekerjaan bagi mereka, yang mana mempengaruhi sikap terhadap pendidikan sekolah. Sikap remaja dipengaruhi oleh sikap dan pribadi pendidik, remaja menganggap guru itu baik berdasarkan keadaan guru itu sendiri. Guru yang baik itu adalah guru yang akrab dengan siswanya dan menolong dalam belajar , hal ini seling salah arti menolong malah dipresepsikan dengan pemberian nilai tinggi atau meluluskan. Guru mengarahkan remaja untuk memilih kariernya. II.B.5. Perbedaan Individu dalam Perkembangan Pendidikkan dan Karier Berisi tentang perkembangan intelek, Pencapaian tingkat pendidikan dipengaruhi oleh tingkat kecerdasan atau IQ. Dalam kenyataannya IQ setiap orang berbeda-beda, hal itu berpengaruh terhadap pola kehidupannya di dalam bidang pendidikan. Kehidupan pendidikan merupakan bagian awal dari kehidupan karier, maka perbedaan kehidupan pendidikan tersebut konsekuensinya akan membawa variasi dalam kehidupan pendidikannya berdasarkan kemampuan IQ dan berpikirnya yang berbeda dan perbedaan individual di dalam kehidupan kariernya. II.B6. Upaya Pengembangan Kehidupan Pendidikkan dan karier Menghadapi tiga lingkungan pendidikkan yang berbeda-beda menyebabkan kebingungan pada remaja. Yang mana adanya pertentangan nilai dan norma yang mungkin terjadi. dan dibutuhkan pendekatan untuk mencapai keharmonisan. Orang tua perlu memahami pendidikkan disekolah, luar sekolah dan keluarga. Bedanya antara orang dewasa dan anak-anak adalah jika orang dewasa berorientasi pada kerja-kerja produktif, anak-anak dengan unsur bermain dan remaja belum sepenuhnya produktif yang mana ia belum sepenuhnya memikirkan pekerjaan. Remaja usia 13-19 tahun karier masih ditahap posisi awal karena di usia 13-16 masuk dunia kerja. Mereka menghadapi banyak masalah dari fisik maupun psikologis. Secara fisik belum siap yang mana muncul keterpaksaan, psikologisnya juga sama masih emosional, belum siap mental, belum sepenuhnya bertanggung jawab yang mengahadapi dilematis. Remaja usia 16 tahun lebih secara hukum sudah dibenarkanuntuk bekerja yang didukung oleh kesiapan fisik dan mental yang sudah dapat menyesuaikan. Pemilihan kerja disiapkan sejak dini , saat anak menetapkan sekolah. Remaja punya kemampuan menarik keputusan. Mereka perlu arahan atau bimbingan dari orang tua atau pembimbing. Faktor yang menentukkan pilihan itu, faktor yang digunakan untuk menentukan pilihan pekerjaan antara lain : 1. minat dan kemampuan 2. jenis kelamin 3. latar belakang orang tua 4. kondisi sosial ekonomi 5. jenis pekerjaan itu sendiri Secara biologis usia remaja anak telah siap untuk melakukan pekerjaan dengan kata lain siap untuk bekerja. Secara hukum , usia remaja 16-19 tahun. Secara psikologis pun para remaja yang mana kalian siap memikul tanggung jawab. Bekembang mereka belum memiliki konsep kehidupan masa depan,pedoman datang dia mengikuti anak remaja. Ia menggambarkannya dalam teori.
Perkembangan karier remaja
Dalam arti sempit pendidikan akan membantu kita dalm karier. Dalam arti luasnya pendidikkan merupakan proses perkembangan remaja. Dilihat dari segi usia 12-21 tahun meenurut Ginzberg(Alexander,dkk.1980) perkembangan kariernya mencapai tahap tentatif dan sebagian berada dalam tahap realistis, meurut Super perkembangan karier remaja berada pada tahap eksplorasi, pada subtahap tentatif dan subtahap transisi. Kami akan menjabarkan tahap perkembangan remaja berdasarkan pendapat Ginzberg. Menurutnya ada pada periode pilihan tentatif (11-17 tahun) itu ditandai oleh meluasnya pengenalan anak terhadap berbagai masalah dalam memutuskan pekerjaan apa yang akan dikerjakannya di masa mendatang. Ada 4 macam metode tentatif ;
Tahap Minat (umur 11-12 tahun)
Remaja mulai punya rencana, pilihan dan minat dalam karier. Belajar dari yang dia suka, melakukan pilihan secara tentatif atas subjektif dan belum berdasarkan pertimbangan-pertimbangan objektif.
Tahap kapasitas (12-14 tahun)
Remaja mulai menggunakan keterampilan dan kemauan pribadi sebagai pertimbangan dalam pilihan dan rencana karier. Mulai menilai kemampuannya, berperan baik dalam bidang pendidikkan dan pekerjaan yang diminati. Remaja cenderung melihat orang lain sebagai contohnya.
Tahap Nilai (15-16 tahun)
Di tahap ini remaja menganggap penting nilai pribadi dan karier dalam memilih karier. Mulai melihat kebutuhan pada dirinya, tahu perbedaan konsepsi gaya hidup yang disiapkan oleh pekerjaannya, kesadarah terhadap waktu berkembang dan sensitif perlunya pekerjaan.
Tahap transisi (17-18 tahun)
Remaja mulai mempertimbangkan secara realistis yang mana ke posisi yang lebih terfokus, remaja mulai mengerti perlunya mengambil keputusan cepat, konkret dan realistis tentang kariernya nanti, mulai mencoba keterampilan dan bakatnya.
Dalam periode pilihan realistis (17/18- yang lebih tua)
Remaja sampai pada tahap eksplorasi alternatif yang cocok dan memilih karier. Tahap spesifikasi perkembangan akhir dalam pilihan karier. Yang mana sudah ana pekerjaan tetap dan berusaha untuk memilih tugas-tugas dan posisi spesifik .
Masalah yang dihadapi
Pada prosesnya perkembangan karier menemui berbagai masalah dan hambatan, yang mana berasal dari dirinyadan lingkungannya. Yang berasal dari dirinya yang mana minat tidak sesuai dengan kemampuan. Contoh cita-cita masuk kedokteran tapi tidak pandai di mata pelajaran IPA . masalah dari lingkungannya yaitu paksaan terhadap orangtua yang mana anak belum ada di kemampuan itu dan tidak menyukai bidang itu. Terlebih yang parah jika pilihan keduanya tidak saling mendukung maka akan ada konflik dalam karier remaja, solusinya disampaikan oleh Shertzer (Alexander,dkk.1980) sarnnya adalah sebagai berikut ;
Pelajari diri sendiri, karena kesadaran diri tentang bakat,kemampuan,ciri-ciri pribadi merupakan kunci sukses karier.
Bidang yang paling nyaman dan kuasai.
Menulis rencana dan cita-cita dengan formal.
Membiasakan diri dengan tuntuttan pekerjaan yang diminati.
Meninjau ulang rencana karier dengan orang lain.
Bila pilihan tidak cocok segera hentikan dan susun rencana baru yang cocok.
Di indonesia untuk remaja di bantu oleh pelayanan bimbingan karier di sekolah dengan berbgai kegiatan yaitu;
Pemahaman diri : bakat, kemampuan, minat, keterampilan, dan ciri-ciri pribadi.
Pemahaman lingkungan : dari pendidikkan , pekerjaan dan kondisinya.
Cara mengatasi masalah dan hambatan dalam perencanaan dan pemilihan karierkemungkinan keterbatasan dan keadaan diri.
Perencanaan masa depan.
Usaha penyaluran. Penempatan pengaturan dan penyesuaian.
Sumber referensi : Sunarto,dkk.PerkembanganPeserta Didik .Jakarta:PT Asdi Mahasatya. 2006
Segala puji dan syukur saya panjatkan kepada tuhan yang maha esa, karena
atas berkat dan limpahan rahmatnyalah maka saya boleh menyelesaikan sebuah
karya tulis dengan tepat waktu.
Berikut ini penulis mempersembahkan sebuah rangkman dengan judul "HAK
DAN KEWAJIWAN SUAMI ISTRI", yang mmenurut saya dapat memberikan manfaat
yang besar bagi kita untuk mempelajari pendidikan agama islaPendidikPendidikan Agama
Islam.
Melalui kata pengantar ini penulis lebih dahulu meminta maaf dan memohon
permakluman bila mana isi makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan yang saya
buat kurang tepat atau kurang lengkap untuk pembaca.
Dengan ini saya mempersembahkan karya tulis ini dengan penuh rasa terima
kasih dan semoga allah SWT memberkahi makalah ini sehingga dapat memberikan
manfaat.
Magetan, 01 Oktober 2012
"Penulis"
Daftar Isi
DAFTAR ISI
.....................
i
Homeschooling Primagama
Deskripsi Homeschooling
...........................
1
Visi & Misi
...........................
2
Sistem belajar di
Homeschooling
...........................
3
Dasar Hukum
...........................
4
SEKOLAH ALAM BANDUNG
PENDAHULUAN
...........................
6
PENDIRIAN SEKOLAH ALAM BANDUNG
Visi & Misi
...........................
9
KURIKULUM
...........................
10
HAK DAN KEWAJIBAN SUAMI DAN ISTRI
Sebagaimana
suami punya hak dari istrinya maka sebaliknya istri juga punya hak dari
suaminya. Suami wajib memperlakukan mereka dengan baik sebagaimana mereka
senang diperlakukan dengan baik oleh istrinya, bahkan Nabi shallallahu alaihi
wasallam menjadikan hal itu sebagai tanda kesempurnaan iman seorang suami.
Hak dan
kewajiban dalam rumah tangga merupakan faktor yang sangat penting. Karena
dengan memperhatikan hal tersebut maka hubungan keduanya akan senantiasa
harmonis, dan sebaliknya akan menyebabkan perpecahan di antara keduanya. Allah
Ta’ala dan Rasul-Nya sangat menekankan masalah hak dan kewajiban suami istri
ini, karena suatu umat itu lahir dari keluarga. Jika keluarganya baik maka akan
baik umat yang lahir darinya, dan demikian pula sebaliknya. Karenanya suami
mana saja yang menelantarkan hak istrinya maka secara tidak langsung dia telah
menjadi sebab dari rusaknya keluarganya dan baginya dosa yang sangat besar.
A. HakSuamitrhadap istri
1.Suami adalah pemimpin rumah tangga
“Kaum lelaki adalah pemimpin bagi
kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki)
atas sebagian yang lain (wanita)..”(An-Nisa’: 34)
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh
karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian
yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian
dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada
Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah
memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka
nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah
mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan
untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.
2.Suami dipatuhi dan tidak boleh
ditentang
3.Tanpa izin suami, isteri tidak boleh
mensedekahkan harta suami, dan tidak boleh berpuasa sunnah.
4.Suami harus dilayani oleh isteri
dalam hubungan badan kecuali uzur, dan isteri tidak boleh keluar rumah tanpa
izinnya. Rasulullah saw bersabda:
“Isteri harus patuh dan tidak
menentangnya. Tidak mensedekahkan apapun yang ada di rumah suami tanpa izin
sang suami. Tidak boleh berpuasa sunnah kecuali dengan izin suami. Tidak boleh
menolak jika suaminya menginginkan dirinya walaupun ia sedang dalam kesulitan.
Tidak diperkenankan keluar rumah kecuali dengan izin suami.” (Al-Faqih, 3:277)
أوصاني
جبرئيل عليه السلام بالمرأة حتى ظننت أنه لا ينبغي طلاقها إلا من فاحشة مبينة
Artinya: Jibril
sering berpesan kepadaku tentang wanita, sampai-sampai aku merasa bahwa wanita
tidak berhak untuk diceraikan kecuali jika telah melakukan zina dengan
terang-terangan. (Al-Faqih, 3:277)
5.Menyalakan lampu dan menyambut suami
di pintu
6.Menyajikan makanan yang baik untuk
suami
7.Membawakan untuk suami bejana dan
kain sapu tangan untuk mencuci tangan dan mukanya
8.Tidak menolak keinginan suami
hubungan badan kecuali dalam keadaan sakit.Rasulullah saw juga bersabda:
“Hak suami atas isteri adalah isteri hendaknya menyalakan lampu
untuknya, memasakkan makanan, menyambutnya di pintu rumah saat ia datang,
membawakan untuknya bejana air dan kain sapu tangan lalu mencuci tangan dan
mukanya, dan tidak menghindar saat suami menginginkan dirinya kecuali ia sedang
sakit.” (Makarim Al-Akhlaq: 215)
حقّ الرجل على المرأة انارة السراج واصلاح الطعام وان تستقبله عند
باب بيتها فترحّب به وان تقدّم إليهمن علّةالطشت
والمنديل وان توضئه وان لا تمنعه نفسها إل
Artinya: Hak suami atas isteri adalah bahwa isteri hendaknya
menyalakan lampu untuknya, memasakkan makanan, menyambutnya di pintu rumah kala
ia datang, membawakan untuknya bejana air dan kain sapu tangan lalu mencuci
tangan dan mukanya, dan tidak menghindar saat suami menginginkan dirinya
kecuali jika ia sedang sakit. (Makarim Al-Akhlaq: 215)
B.
hak istri terhadap suaminya
1.Isteri sebagai sumber sakinah, cinta
dan kasih sayang. Suami harus menjaga kesuciannya. QS Ar-Rum: 21)
Artinya : “Dan di antara ayat-ayat-Nya ialah Dia
menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman
kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah dan rahmah. Sesungguhnya pada
yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”
[Ar-Rum 21].
2.Isteri harus mendapat perlakukan yang
baik
“Ciptakan hubungan yang baik dengan isterimu.”
( Al-Nisa’ :19)
Artinya :Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi
kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka
karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan
kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan
bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai
mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal
Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.
3.Mendapat nafkah dari suami
4.Mendapatkan pakaian dari suami
5.Suami tidak boleh menyakiti dan
membentaknya
Pada suatu hari Khaulah binti Aswad
mendatangi Rasulullah saw dan bertanya tentang hak seorang isteri. Beliau menjawab:
“Hak-hakmu atas suamimu adalah ia harus memberimu makan dengan
kwalitas makanan yang ia makan dan memberimu pakaian seperti kwalitas yang ia
pakai, tidak menampar wajahmu, dan tidak membentakmu” (Makarim Al-Akhlaq:218)
Rasulullah saw juga bersabda:
“Orang yang bekerja untuk menghidupi keluarganya sama dengan orang
yang pergi berperang di jalan Allah.”. (Makarim Al-Akhlaq:218)
“Terkutuklah! Terkutuklah orang yang tidak memberi nafkah kepada
mereka yang menjadi tanggung jawabnya.” (Makarim Al-Akhlaq:218)
6Suami harus memuliakan dan bersikap
lemah lembut
7Suami harus memaafkan kesalahannya
Cucu Rasulullah saw Imam Ali Zainal
Abidin (sa) berkata:
“Adapun hak isteri, ketahuilah sesungguhnya Allah Azza wa Jalla
telah menjadikan untukmu dia sebagai sumber sakinah dan kasih sayang. Maka,
hendaknya kau sadari hal itu sebagai nikmat dari Allah yang harus kau muliakan
dan bersikap lembut padanya, walaupun hakmu atasnya lebih wajib baginya. Karena
ia adalah keluargamu Engkau wajib menyayanginya, memberi makan, memberi
pakaian, dan memaafkan kesalahannya.”
C.KELUARGA
HARMONIS (SAKINAH)
Allah
Ta’ala berfirman:
وَعَاشِرُوهُنَّ
بِالْمَعْرُوفِ
“Dan pergaulilah mereka (istri-istri kalian)
dengan cara yang baik.” (QS. An-Nisa`: 19)
Dari Abu
Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda:
“Ya Allah, sesungguhnya aku
telah menetapkan sanksi atas hak dua orang yang lemah, yaitu hak anak yatim dan
hak seorang wanita.” (HR. Ahmad no. 9289, Ibnu Majah no. 3668, dan
dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1015)
Yakni: Menetapkan saksi atas
siapa saja yang menelantarkan hak kedua orang itu.
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
beliau bersabda:
“Barangsiapa yang beriman
kepada Allah dan hari akhir, kemudian dia menyaksikan suatu peristiwa,
hendaklah dia berbicara dengan baik atau diam. Berwasiatlah kepada wanita
dengan kebaikan, karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan
bagian yang paling bengkok adalah tulang rusuk yang paling atas. Jika kamu
berusaha untuk meluruskannya niscaya akan patah, tapi jika kamu membiarkannya
maka dia akan senantiasa bengkok. Karenanya berwasiatlah terhadap wanita dengan
kebaikan.” (HR. Al-Bukhari no. 5186 dan Muslim no. 1568)
Dari Hakim
bin Mu’awiyah Al-Qusyairi dari ayahnya dia berkata: Aku pernah bertanya. “Wahai
Rasulullah, apakah hak isteri salah seorang di antara kami atas dirinya? Beliau
menjawab:
“Engkau memberinya makan
apabila engkau makan, memberinya pakaian apabila engkau berpakaian, janganlah
engkau memukul wajah, jangan engkau menjelek-jelekkannya (dengan perkataan atau
cacian), dan jangan engkau tinggalkan kecuali di dalam rumah.” (HR. Abu
Daud no. 2142)
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Janganlah seorang mukmin
membenci wanita mukminah, jika dia membenci salah satu perangainya, niscaya dia
akan ridha dengan perangainya yang lain.” (HR. Muslim no. 1469)
Dari Abu
Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda:
“Orang mukmin yang paling
sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Sebaik-baik kalian adalah
yang paling baik terhadap para istrinya.” (HR. At-Tirmizi no. 1162)
Keluarga sakinah adalah idaman setiap
manusia. Tapi tidak jarang dari mereka menemukan jalan buntu, baik yang
berkecupan secara materi maupun yang berkekurangan. Apa sebenarnya rahasianya?
Mengapa kebanyakan manusia sulit menemukannya? Mengapa sering terjadi
percekcokan dan pertengkaran di dalam rumah tangga, yang kadang-kadang
akibatnya meruntuhkan keutuhan rumah tangga?
Padahal Allah swt menyebutkan
perjanjian untuk membangun rumah tangga sebagai perjanjian yang sangat
kuat dan kokoh yaitu “Mîtsâqan ghalîzhâ. Allah swt menyebutkan kalimat
“Mîtsâqan ghalîzhâ hanya dalam dua hal: dalam membangun rumah tangga, dan dalam
membangun missi kenabian. Tentang “Mîtsâqan ghalîzhâ dalam urusan rumah tanggah
terdapat dalam surat An-Nisa’: 21.
“Dan jika kalian ingin
mengganti istri kalian dengan istri yang lain sedang kalian telah memberikan
kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kalian
mengambil kembali sedikitpun dari harta tersebut. Apakah kalian akan
mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan menanggung dosa
yang nyata? Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah
bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka
(isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.” (An-Nisa`:
20-21)
Adapun dalam hal missi kenabian terdapat dalam surat An-Nisa’: 154,
Artinya :Dan telah Kami angkat ke atas (kepala) mereka bukit Thursina
untuk (menerima) perjanjian (yang telah Kami ambil dari) mereka. Dan kami
perintahkan kepada mereka: "Masuklah pintu gerbang itu sambil
bersujud", dan Kami perintahkan (pula) kepada mereka: "Janganlah kamu
melanggar peraturan mengenai hari Sabtu", dan Kami telah mengambil dari
mereka perjanjian yang kokoh. (An-Nisa`: 154)
Tentang perjanjian kaum nabi Musa
(as); dan dalam surat Al-Ahzab: 7, tentang perjanjian para nabi: Nuh, Ibrahim,
Musa dan Isa (as).
Artinya :Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi
dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami
telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh (Al-Ahzab: 7)
Bangunan rumah tangga bagaikan
bagunan missi kenabian. Jika bangunan runtuh, maka maka runtuhlah missi
kemanusiaan. Karena itu Rasulullah saw bersabda: “Perbuatan halal yang paling
Allah murkai adalah perceraian.” Sebenarnya disini ada suatu yang sangat
rahasia. Tidak ada satu pun perbuatan halal yang Allah murkai kecuali
perceraian. Mengapa ini terjadi dalam perceraian? Tentu masing-masing kita
punya jawaban, paling tidak di dalam hati dan pikiran. Dan saya tidak akan menjawab
masalah ini, perlu pembahasan yang cukup rinci dan butuh waktu yang cukup lama.
Tentu perlu farum tersendiri.
Keluarga sakinah sebagai idaman
setiap manusia tidak mudah diwujudkan sebagaimana tidak mudahnya mewujudkan
missi kenabian oleh setiap manusia. Perlu persyaratan-persyaratan yang ketat
dan berat. Mengapa? Karena dua persoalan ini bertujuan mewujudkan kesucian.
Kesucian berpikir, mengolah hati, bertindak, dan gerasi penerus ummat manusia.
Karena itu, dalam bangunan rumah
tangga Allah swt menetapkan hak dan kewajiban. Maaf saya pinjam istilah AD/ART.
Bangunan yang lebih kecil missinya dari bangunan rumah tangga punya AD/ART,
vissi dan missi. Bagaimana mungkin bangunan yang lebih besar tidak punya
AD/ART, Vissi dan Missi bisa mencapai tujuan? Tentu AD/ART, Missi dan Missi
dalam rumah tangga, menurut saya, tidak bisa dibuat berdasarkan mu’tamar atau
kongres atau musyawarah seperti layaknya organisasi umumnya.
Dalam hal rumah tangga kita jangan
coba-coba buat AD/ART sendiri, pasti Allah swt tidak ridha dan murka. Karena
itu Allah swt menetapkan hak dan kewajiban dalam bangunan rumah tangga.
Tujuannya jelas mengantar manusia pada kebahagiaan, sakinah, damai dan tenteram
sesuai dengan rambu-rambu yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Menurut pemahaman saya, tidak cukup
AD/ART itu dalam bentuk tek dan buku, perlu sosok contoh yang telah mewujudkan
AD/ART itu. Siapa mereka? Ini juga perlu farum khusus untuk membahasnya secara
detail dan rinci.
Tapi sekilas saja saya ingin
mengantarkan pada diskusi contoh tauladan rumah tangga yang telah mewujudkan
keluarga sakinah. Dan ini tidak akan terbantah oleh semua kaum muslimin. Yaitu
rumah tangga Rasulullah saw dengan Sayyidah Khadijah Al-Kubra (sa), dan rumah
tangga Imam Ali bin Abi Thalib (sa) dengan Sayyidah Fatimah Az-Zahra’
(sa).
Disini sebenarnya ada hal yang sangat
menarik dikaji, khususnya bagi kaum wanita dan kaum ibu. Apa itu? Fakta
berbicara bahwa Rasulullah saw banyak dibicarakan oleh kaum laki-laki bahwa
beliau contoh poligami, kemudian mereka melaksanakan dengan dalil mencontoh
Rasulullah saw. Tapi kita harus ingat kapan Rasulullah saw berpoligami? Dan
mengapa beliau melakukan hal ini? Pakta sejarah berbicara bahwa Rasulullah saw
tidak melakukan poligami saat beliau berdampingan dengan Khadijah sampai ia
meninggal. Mengapa? Kalau alasannya perjuangan. Bukankah di zaman dengan
Khadijah beliau tidak berjuang? Justru saat-saat itu perjuangan beliau sangat
berat. Dimanakah letak persoalannya? Lagi-lagi menurut saya, pribadi Khadijah
yang luar biasa, sosok seorang isteri yang benar-benar memahami jiwa dan
profesi suaminya. Sehingga Rasulullah saw tidak pernah melupakan Khadijah
walaupun sudah meninggal, dan disampingnya telah ada pendamping wanita yang
lain bahkan tidak satu isteri. Kaum wanita khususnya kaum ibu, kalau ingin
keluarga sakinah harus mempelajari sosok Khadijah Al-Khubra (sa), supaya
suaminya tidak mudah terpikat hatinya pada perempuan yang lain.
Sekarang tentang keluarga Imam Ali
dengan Fatimah Az-Zahra (sa). Sejarah bercerita pada kita bahwa Rasulullah saw
sangat menyukai rumah tangga puterinya dengan kehidupan sederhana bahkan sangat
sederhana. Saking sederhananya, hampir-hampir tidak mampu dijalani oleh
ummatnya, khususnya sekarang. Sama dengan Rasulullah saw Imam Ali (sa) saat berdampingan
dengan Fatimah puteri Nabi saw beliau tidak berpoligami. Beliau berpoligami
setelah Fatimah Az-Zahra’ meninggal. Ada apa sebenarnya dengan dua wanita ini,
sepertinya mereka dapat mengikat laki-laki tidak kawin lagi? Apa Imam Ali takut
dengan Fatimah, atau Rasulullah saw takut dengan Khadijah? Atau sebaliknya,
Khadijah berani dan menundukkan Rasululah saw, juga Fatimah (sa) seperti itu
terhadap suaminya? Tentu jawabannya tidak. Lalu mengapa? Jawabannya perlu forum
tersendiri untuk kita diskusikan dan mengambil pelajaran darinya.
Sebagi konsep dasar diskusi kita:
Perempuan adalah sumber sakinah, bukan laki-laki. Mari kita perhatikan firman
Alla swt:
Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya
Dia menciptakan untuk kalian isteri dari species kalian agar kalian merasakan
sakinah dengannya; Dia juga menjadikan di antara kalian rasa cinta dan kasih
sayang. Sesungguhnya dalam hal itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang
berpikir.” (Ar-Rûm: 21).
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia
menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung
dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan
sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
bagi kaum yang berfikir. (Ar-Rûm: 21)
Dalam ayat ini ada kalimat
“Litaskunû”, supaya kalian memperoleh atau merasakan sakinah. Jadi sakinah itu
ada pada diri dan pribadi perempuan. Laki-laki harus mencarinya di dalam diri
dan pribadi perempuan. Tapi perlu diingat laki-laki harus menjaga sumber
sakinah, tidak mengotori dan menodainya. Agar sumber sakinah itu tetap terjaga,
jernih dan suci, dan mengalir tidak hanya pada kaum bapak tetapi juga anak-anak
sebagai anggota rumah tangga, dan gerasi penerus.
Kita bisa belajar dari fakta dan
relialita. Kaum isteri yang sudah ternoda mata air sakinahnya berdampak pada
anak-anak sebagai penerus ummat Rasulullah saw. Siapa yang paling berdosa?
Jelas yang mengotori dan menodainya.
Salah satu cara agar menjadi keluarga
yang harmonis (sakinah) adalah
1.Menghindari pertikaian
Pertengkaran
dan perselisihan yang terjadi dalam keluarga akan menyebabkan suasana yang
panas dan tegang yang dapat mengancam keutuhan dan kehar-monisan rumah tangga.
Tidak jarang, pertengkaran itu berakhir dengan perceraian dan kehancuran
keluarga. Fenomena ini merupakan salah satu hal yang paling dikhawatirkan oleh
semua anggota keluarga, termasuk di dalamnya anak-anak.
Suasana yang
menegangkan dalam rumah sangat berdampak negatif terhadap perkembangan dan
pembentukan jati diri anak.
Dr. Zain Abbas Umarah, Adhwa’ Alaa Al-Nafs
Al-Basyariyyah: 302 berpendapat bahwa
ؓKelabilan
sikap dan penyakit-penyakit kejiwaan yang diderita oleh anak-anak belia dan
orang dewasa, disebabkan oleh perlakuan tidak benar yang diperlihatkan oleh
orang tua mereka, seperti pertengkaran yang menyebabkan suasana dalam rumah
panas dan menegangkan. Hal seperti itu membuat anak tidak merasa aman berada di
dalam rumah”
Profesor Richard Fougen berpendapat
bahwa :
ؓIbu yang tidak diperlakukan dengan layak
sebagai seorang manusia, sebagai ibu bagi anak-anaknya, dan sebagai isteri bagi
suaminya, tidak akan mampu memberikan rasa aman pada diri anak-anaknya”
Perasaan aman
dan tenang merupakan salah satu faktor terpenting dalam membangun kepribadian
anak secara benar dan sempurna. Perasaan semacam ini tidak akan didapatkan
dalam lingkungan yang selalu diliputi oleh ketegangan dan pertengkaran.
Dalam keadaan
seperti itu, anak akan berada dalam kebingungan dan kebimbangan. Ia tidak tahu
apa yang harus ia perbuat. Posisinya tidak memungkinkan baginya untuk
menyelesaikan pertengkaran kedua orang tuanya, apalagi jika pertengkaran
tersebut sampai menggunakan kekerasan. Di satu sisi, ia tidak mungkin akan
berpihak pada salah satu dari orang tuanya.
Lebih dari
itu, kebingungan anak akan memuncak kala masing-masing pihak yang berselisih
berusaha untuk menarik dukungannya dengan menyebutkan bahwa pihaknyalah yang
benar, sedangkan lawannyalah yang bersalah dan memulai menyulut api
pertengkaran ini. Semua itu meninggalkan kesan negatif di hati, pikiran, dan
perasaan si anak.
Dr Spock berpendapat sebagai berikut
:
ؓRiset yang dilakukan oleh para ahli terhadap
ribuan anak yang tumbuh besar di tengah-tengah keluarga yang selalu diliputi
oleh ketegangan membuktikan bahwa mereka ketika menginjak usia dewasa akan
merasa bahwa mereka tidak seperti orang-orang lain pada umumnya. Mereka
kehilangan rasa percaya diri. Mereka pun takut untuk menjalin hubungan cinta
yang sehat dengan orang lain, karena mereka selalu membayangkan bahwa membangun
keluarga berarti menempatkan dirinya di suatu tempat yang dihuni oleh
orang-orang yang selalu berselisih dan bertengkar satu dengan yang lainnya”
Setiap
keluarga memiliki masalah yang berpotensi memicu percekcokan di antara mereka.
Cara melampiaskan kekesalan dan kemarahan masing-masing pun berbeda. Sebagian
orang terbiasa untuk menggunakan kata-kata kotor, makian, dan hinaan. Sebagian
yang lain terbiasa untuk melayangkan tangan ketika amarahnya memuncak.
Saat
menyaksikan adegan demikian, anak-anak akan belajar untuk mempraktekkannya
ketika terlibat pertengkaran dengan kawan-kawannya. Hal itu akan mempengaruhi
tingkah laku mereka saat kanak-kanak maupun saat menginjak usia dewasa nanti.
Karena itulah kita banyak menyaksikan ataupun mendengar adanya anak yang sampai
memaki ibunya atau bahkan memukulnya. Dan terkadang pula, si anak akan
menggunakan apa yang ia pelajari itu terhadap isterinya ketika kelak menginjak
usia dewasa.
Untuk
mencegah terjadinya pertengkaran dan percekcokan antara suami dan isteri, atau
paling tidak, mengurangi dampak negatif yang ditimbulkannya terhadap psikis dan
mental, atau jika mungkin, menghilangkannya sama sekali, Islam telah
mengenalkan sebuah konsep sempurna dalam menyelesaikan pertengkaran dan
perselisihan dalam keluarga.
Pada uraian
sebelumnya telah disebutkan bahwa Islam sangat menekankan pentingnya mempererat
tali cinta kasih dalam keluarga. Selain itu juga telah disebutkan hak-hak dan
kewajiban suami dan istri. Dalam ajaran Islam pun disebutkan tentang pentingnya
proses seleksi dengan standar nilai Islam ketika memilih calon suami atau
istri.
Semua ini
dimaksudkan untuk mencegah perselisihan yang mungkin terjadi dalam keluarga.
Namun jika tanda-tanda munculnya percekcokan sudah nampak, atau bahkan
percekcokan itu telah terjadi, Islam menawarkan cara untuk mengakhirinya.
Selain itu, Islam juga mengecam pihak yang memicu perselisihan dan
memperingatkan semua pihak agar waspada terhadap masalah ini.
Rasulullah SAWW bersabda,
خير الرجال من أمتي الذين لا يتطاولون على
أهليهم ويحنّون عليهم ولا يظلمونـهم
Artinya: Lelaki
terbaik dari umatku adalah orang tidak menindas keluarganya, menyayangi mereka
dan tidak berlaku zalim ( Makarim Al-Akhlaq:216-217)
Imam Muhammad
Baqir a.s. dalam sebuah hadis menganjurkan para suami untuk bersabar menerima
perlakuan buruk, sebab membalas keburukan dengan keburukan akan membuat area
perselisihan bertambah luas. Beliau mengatakan,
من احتمل من امرأته ولو كلمة واحدة أعتق الله
رقبته من النّار وأوجب له الجنّة
Artinya: Orang
yang sabar dalam menerima perlakuan buruk istrinya, meskipun hanya sebatas satu
kata, niscaya akan dibebaskan Allah dari siksa api neraka dan ditempatkannya di
dalam surga ( Ibid:216)
Dalam sebuah
hadis, Rasulullah SAWW menghimbau para suami untuk bersabar atas perlakuan
buruk isterinya. Beliau bersabda,
من صبر على سوء خلق امرأته أعطاه الله من الأجر
ما أعطى أيوب على بلائه
Artinya: Jika
seseorang bersabar atas perlakuan buruk isterinya, Allah akan memberinya pahala
seperti yang Dia berikan kepada Nabi Ayyub a.s. yang tabah dan sabar menghadapi
ujian-ujian Allah yang berat (Ibid:213)
Bersabar
terhadap perlakuan buruk isteri adalah hal yang mungkin dianggap tidak wajar
oleh kaum lelaki. Tetapi dengan adanya perintah dan anjuran Nabi SAWW dan Ahlul
Bait a.s., hal tersebut menjadi suatu yang sunnah yang akan dengan
senang hati dijalankan oleh kaum lelaki yang beriman. Tanpa merasakan adanya
kehinaan dan kerendahan bagi martabatnya sebagai suami, ia akan bersabar
terhadap perlakuan buruk isterinya itu.
Meniru
perilaku Rasulullah SAWW terhadap isteri-isteri beliau dan perilaku Ahlul Bait
a.s. dapat meminimalkan timbulnya pertengkaran dalam keluarga. Imam Ja’far
Shadiq a.s. berkata,
كانت لأبي عليه السلام امرأة وكانت تؤذيه وكان
يغفر لها
Artinya: Ayahku
pernah mempunyai seorang isteri yang sering menyakitinya. Namun, ayahku selalu
mema-afkannya.( Man Laa Yahdhuruhu Al-Faqih 3:279, hadis ke-4)
Rasulullah
SAWW melarang para suami untuk menggunakan kekerasan terhadap isterinya dalam
hadis berikut ini.
أيّ رجل لطم امرأته لطمة أمر الله عزّ وجل مالك
خازن النيران فيلطمه على حرّ وجهه سبعين لطمة في نار جهنّم
Artinya: Barang
siapa melayangkan tamparan ke pipi isterinya satu kali, Allah akan
memerintahkan malaikat penjaga neraka untuk membalas tamparan itu dengan tujuh
puluh kali tamparan di neraka jahanam.( Mustadrak Al-Wasail 2:550)
Di pihak
lain, kaum wanita pun dianjurkan untuk bersikap yang sama. Dalam sebuah riwayat
disebutkan bahwa Imam Ja’far Shadiq a.s. menganjurkan kaum wanita untuk sedapat
mungkin untuk menghindari pertengkaran yang buruk. Beliau berkata,
خير نسائكم التي إن غضبت أو أغضبت قالت لزوجها
: يدي في يدك لا أكتحل بغمض حتى ترضى عني
Artinya: Wanita
terbaik adalah wanita yang ketika marah atau membuat suaminya marah, berkata
kepada suaminya itu, “Aku letakkan tanganku di tanganmu. Aku bersumpah untuk tidak
tidur sebelum engkau mema-afkanku.”( Makarim Al-Akhlaq:200)
Imam Muhammad Baqir a.s.
berkata,
وجهاد المرأة أن تصبر على ما ترى من أذى زوجها
وغيرته
Artinya: Jihad
bagi seorang wanita adalah bersabar terhadap perlakuan buruk dan rasa cemburu
suaminya.( Man Laa Yahdhuruhu Al-Faqih 3:277 hadis ke-4)
Rasulullah
SAWW melarang isteri untuk melakukan tindakan yang dapat memancing timbulnya
pertengkaran. Beliau bersabda,
من شرّ نسائكم الذليلة في أهلها , العزيزة مع
بعلها , العقيم الحقود , التي لا تتورّع عن قبيح , المـتبرّجة إذا غاب عنها زوجها
, الحصان معه إذا حضر , التي لا تسمع قوله , ولا تطيع أمره , فإذا خلا بها تمنعت
تمنع الصـعبة عند ركوبها ولا تقبل له عذرا ولا تغفرله ذنبا
Artinya: Wanita
terburuk adalah wanita yang hina dalam keluarganya tetapi merasa mulia di
hadapan suami; yang mandul dan selalu merasa dengki; yang tidak berhenti
melakukan perbuatan buruk; yang selalu berhias kala suami bepergian dan
bersikap sombong kala suami ada; yang tidak mendengar kata-kata suami dan tidak
menuruti perintahnya; yang jika berduaan dengan suaminya akan menolak
ajakannya; dan yang tidak pernah mau memaafkan kesalahan suami dan tidak
menerima alasannya. (Makarim Al-Akhlaq:202)
Rasulullah
SAWW dalam hadisnya melarang wanita untuk membebani suami dengan sesuatu yang
di luar kemampuannya. Beliau bersabda,
أيّما امرأة أدخلت على زوجها في أمر النفقة و كلّفته مالا يطيق لا يقبل
الله منها صرفا ولا عدلا إلاّ أن تتوب وترجع وتطلب منه طاقته
Artinya: Wanita
yang memaksa suaminya untuk memberikan nafkah di luar batas kemampuannya, tidak
akan diterima Allah SWT amal perbuatannya sampai ia bertaubat dan meminta
nafkah semampu suaminya(Ibid)
Selain itu
Rasulullah SAWW juga melarang wanita untuk mengungkit-ungkit kelebihannya atas
suami. Beliau bersabda,
لو أن جميع ما في الأرض من ذهب وفضة حملته المرأة إلى بيت زوجها ثم ضربت
على رأس زوجها يوما من الأيام , تقول : من أنت ؟ إنما المال مالي , حبط عملها ولو
كانت من أعبد الناس, إلاّ أن تتوب وترجع وتعتذر إلى زوجها
Artinya: Seandainya
seorang wanita datang ke rumah suaminya dengan membawa serta bersamanya seluruh
kekayaan bumi dari emas dan peraknya, lalu pada suatu saat ia mengangkat
kepalanya di hadapan suami sambil mengatakan, “Siapa kau ini? Bukankah seluruh
harta ini adalah milikku?”, Allah akan menghapus semua amalan baiknya meskipun
ia adalah orang yang paling banyak beribadah, kecuali bila ia bertaubat dan
meminta maaf kepada suaminya.( Ibid)
Rasulullah
SAWW juga mengingatkan para wanita untuk tidak menggunakan kata-kata kasar yang
dapat membangkitnya amarah suami saat berhadapan dengannya. Beliau bersabda,
أيّما امرأة آذت زوجها بلسانـها لم يقبل منها صرفا ولا عدلا ولا حسنة من
عملها حتى ترضيه ..
Artinya: Jika
seorang wanita menyakiti suaminya dengan kata-kata, Allah tidak akan menerima
seluruh amalan baiknya sampai sang suami memaafkannya (Ibid:214)
Dalam
hadisnya yang lain, Rasulullah SAWW melarang suami isteri tidak menyapa satu
sama lain, karena hal itu merupakan awal perpisahan dan terputusnya hubungan
antara mereka. Beliau bersabda,
أيّما امرأة هجرت زوجها وهي ظالمة حشرت يوم القيامة مع فرعون وهامان
وقارون في الدّرك الأسفل من النار إلاّ أن تتوب وترجع
Artinya: Jika seorang wanita mendiamkan suaminya
padahal ia adalah pihak yang salah dan berlaku zalim terhadapnya, Allah kelak
akan mengumpulkannya bersama dengan Fir’aun, Haman, dan Qarun di dasar neraka,
kecuali jika ia bertaubat dan kembali ke jalan yang benar. (Ibid:202)
Semua
perintah dan anjuran di atas, jika dijalankan dengan baik dan sempurna, akan
menjamin keselamatan keluarga dari pertengkaran dan percekcokan atau paling
tidak meminimalkannya. Namun bila pasangan suami isteri tidak mampu
menjalankannya dengan baik, maka hendaknya pertengkaran yang terjadi di antara
mereka tidak didengar oleh anak-anak. Sebaiknya, anak-anak tidak mendengar
tuduhan-tuduhan, kata-kata kotor, dan makian yang terlontar dari kedua orang
tua mereka.
Kewajiban
orang tua adalah menjelaskan kepada anak-anak mereka bahwa pertengkaran dalam
sebuah keluarga adalah hal yang wajar dan mereka berdua masih saling mencintai.
Selain itu, mereka berdua juga harus secepatnya mencari jalan penyelesaian
kemelut yang melanda rumah tangga mereka itu.
2.MENGHINDARI PERCERAIAN
Islam
memperingatkan setiap pasangan suami istri tentang dampak negatif perceraian
dan putusnya tali ikatan perkawinan. Dampak negatif tersebut akan menimpa
kondisi psikis mereka berdua, anak-anak, dan juga masyarakat.
Perceraian
adalah sumber kegelisahan dan kelabilan psikis, perasaan, dan tingkah laku anak
karena ia sangat membutuhkan cinta dan kasih sayang yang seimbang dari ayah dan
ibunya. Bahkan, seorang anak hanya dengan memikirkan dan mengkhayalkan
perceraian kedua orang tua, akan merasa gelisah. Jika hal itu berkelanjutan
akan berdampak negatif pada kestabilan perasaan dan kejiwaannya.
Sehubungan
dengan hal ini, Islam telah menawarkan sebuah konsep dalam menjaga hubungan
baik antara suami isteri untuk menghindarkan perceraian dan kehancuran rumah
tangga. Dalam banyak nash, Islam bahkan melarang perceraian. Rasulullah
SAWW bersabda,
أوصاني جبرئيل عليه السلام بالمرأة حتى ظننت
انه لا ينبغي طلاقها إلاّ من فاحشة مبيّنة
Artinya: Jibril
sering berpesan kepadaku tentang talak (perceraian), sampai-sampai aku mengira
bahwa wanita tidak boleh dicerai kecuali jika telah melakukan perbuatan zina
dengan terang-terangan Man Laa Yahdhuruhu (Al-Faqih 3: 278)
mam Ja’far Shadiq a.s. mengatakan,
ما من شيء ممّا أحلّه الله عزّ وجل أبغض إليه
من الطلاق وأن الله يبغض المطلاق الذوّاق
Artinya: Tidak
ada sesuatu yang halal yang lebih Allah benci daripada perceraian. Allah sangat
membenci orang lelaki yang gemar menceraikan isteri dan sering kawin hanya
untuk menikmati wanita sesaat saja (Al-Kafi 6:54 hadis ke-2)
Beliau juga berkata,
إن الله عزّ وجل يحب البيت الذي فيه العرس , ويبغض البيت الذي فيه الطلاق
وما من شيء أبغض إلى الله عزّ وجل من الطلاق
Artinya: Sesungguhnya
Allah SWT menyenangi rumah yang di dalamnya terdapat orang yang baru menikah,
dan membenci rumah yang di dalamnya terdapat perceraian. (
)Ibid. Hadis ke-3)
Selain itu
Islam, juga menganjurkan semua pasangan untuk menyusun strategi demi
menghindari perceraian. Islam mengajak para suami istri untuk mempererat tali
cinta kasih di antara mereka dan menghimbau agar secepatnya menyelesaikan semua
masalah dan pertikaian di antara keduanya yang dapat mengakibatkan perceraian.
Karena itulah, kita temukan dalam banyak nash agama adanya perintah
untuk bergaul dengan baik dengan pasangan kita. Allah SWT
berfirman,
.. وعاشروهنّ بالمعروف
فإن كرهتموهنّ فعسى أن تكرهوا شيئا و يجعل الله فيه خيرا كثيرا
Artinya: ...Bergaullah
dengan isteri-isteri kalian dengan cara yang baik. Jika kalian tidak menyukai
mereka, (bersabarlah) karena mungkin saja kalian membenci sesuatu padahal Allah
menjadikan padanya kebaikan yang berlimpah.( Q.S. Al-Nisa’ :19)
lah benci daripada
perceraian.
Islam juga telah mengajarkan
untuk mengadakan perbaikan hubungan demi mengembalikan suasana harmonis dalam
keluarga. Allah SWT berfirman,
وإن امرأة خافت من بعلها نشوزا أو إعراضا فلا جناح عليهما أن يصلحا بينهما
صلحا والصلح خير ....
Artinya: Jika
seorang wanita merasa khawatir terhadap sikap tak acuh suami terhadapnya, ia
dapat mengusahakan perdamaian di antara mereka berdua. Perdamaian itu adalah
sesuatu yang baik....( Q.S. Al-Nisa’ :128)
Mengadakan perdamaian antara
suami dan isteri lebih baik daripada meninggalkannya. Melihat kenyataan bahwa
hati manusia dapat berubah-ubah dan kehendak sewaktu-waktu dapat berbalik,
Islam menekankan kepada suami dan isteri untuk melakukan upaya perdamaian
sebelum mengambil keputusan untuk saling berpisah. Allah SWT berfirman,
وإن خفتم شقاق بينهما فابعثوا حكما من أهله و حكما من أهلها إن يريدا
إصلاحا يوفّق الله بينهما إنّ الله كان عليما خبيرا
Artinya: Jika
kalian mengkhawatirkan adanya pertikaian antara keduanya, utuslah seorang juru
damai dari masing-masing pihak, suami dan isteri. Jika mereka berdua bermaksud
mengadakan perbaikan, Allah pasti akan memberikan taufik-Nya kepada mereka.
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui dan Maha mengenal (Q.S. Al-Nisa’ :35)
Jika semua
usaha perbaikan hubungan dan upaya untuk mengembalikan keadaan seperti
sediakala tidak membuahkan hasil, dan jika semua pertikaian dan perselisihan
yang ada tidak bisa diselesaikan kecuali dengan perceraian, saat itulah mungkin
perceraian merupakan jalan terbaik bagi mereka berdua.
Walaupun
demikian, anak tetap akan mendapatan pukulan yang hebat dari perpisahan kedua
orang tuanya tersebut dan ini akan terlihat pada perubahan tingkah lakunya.
Karena itu, Islam masih memberikan peluang kepada mereka berdua untuk kembali
membangun rumah tangga mereka. Islam memberikan kesempatan kepada suami untuk
merujuk isterinya saat ia masih berada dalam masa iddah atau menikahinya
dengan ijab qabul baru jika wanita itu telah keluar dari masa iddah.
Selain itu, ia masih dapat merujuk setelah menceraikan isterinya sebanyak dua
kali.
Jika semua
usaha perbaikan hubungan ini tidak membuahkan hasil dan perpisahan benar-benar
terjadi, mereka berdua berkewajiban untuk menjaga perasaan anak-anak dengan
mencurahkan perhatian dan kasih sayang kepada mereka. Selain itu, mereka berdua
harus memberikan pengertian kepada anak-anak, bahwa baik ayah maupun ibu mereka
adalah orang-orang yang baik. Islam melarang kita untuk berdusta, bergunjing,
serta membongkar aib dan cela orang lain. Dengan demikian, anak akan dapat
mengatasi masalah dan benturan psikis yang ditimbulkan oleh perceraian orang
tuanya.
Jika anjuran
dan himbauan ini tidak diperhatikan dan masing-masing pihak saling melemparkan
tuduhan kepada pihak lain serta membongkar aib dan kesalahannya kepada anak, si
anak akan membenci kehidupan dan merasa rendah diri. Lebih jauh lagi, hal itu
akan berpengaruh pada perasaannya terhadap orang tuanya. Ia akan membenci dan
sekaligus mencintai mereka pada saat yang sama setelah mengetahui cela dan kesalahan
masing-masing. Anak yang demikian ini akan selalu dihinggapi oleh rasa gelisah
dan kekhawatiran. Kegelisahannya hari demi hari akan bertambah, dan hal itu
berpengaruh buruk pada kehidupan sosialnya dan rumah tangganya di masa
mendatang.