DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL………………………………………………………………………..i
KATA PENGANTAR …………………………………………………………………….ii
DAFTAR ISI……………………………………………………………………………….iii
BAB I PENDAHULUAN………………………………………...................................4
1.1 Latar Belakang ……………………………………………………………………….4
1.2 Rumusan Masalah …………………………………………………………………..5
1.3 Tujuan Penulisan …………………………………………………………………….5
1.4 Manfaat Penulisan……………………………………………………………………5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA……………………………………………………………6
BAB III PEMBAHASAN…………………………………………………………………...9
3.1 Definisi Kepribadian…………………………………………………………………..9
3.2 Faktor Penentu Kepribadian………………………………………………………...10
3.3 Ciri – ciri Kepribadian………………………………………………………………...11
3.4 Kepribadian Utama yang Mempengaruhi Prilaku
Organisasi…………………..13
3.5 Kepribadian dan Budaya Nasional…………………………………………………15
3.6 Mencapai Kecocokan Kepribadian…………………………………………………15
3.7 Definisi Emosi………………………………………………………………………...16
3.8 Dimensi Emosi………………………………………………………………………..17
3.9 Jenis Kelamin dan Emosi……………………………………………………………18
4.0 Batasan Eksternal Terhadap Emosi………………………………………………..18
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN…………………………………………………..19
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………20
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Studi prilaku
organisasi adalah telaah tentang pribadi dan dinamika kelompok dan konteks organisasi, serta sifat organisasi itu sendiri. Setiap kali orang
berinteraksi dalam organisasi, banyak faktor yang ikut bermain. Studi
organisasi berusaha untuk memahami dan menyusun model-model dari faktor-faktor
ini.
Seperti halnya dengan
semua ilmu sosial, perilaku organisasi berusaha untuk mengontrol, memprediksikan, dan menjelaskan. Namun ada sejumlah kontroversi mengenai dampak etis dari
pemusatan perhatian terhadap perilaku pekerja. Karena itu, perilaku organisasi
(dan studi yang berdekatan dengannya, yaitu psikologi industri)
kadang-kadang dituduh telah menjadi alat ilmiah bagi pihak yang berkuasa.
Terlepas dari tuduhan-tuduhan itu, Perilaku Organisasi dapat memainkan peranan
penting dalam perkembangan
organisasidan keberhasilan kerja, yang
diantaranya membahas tentang Kepribadian dan Emosi, kedua hal tersebut sangat
berkaitan erat dengan prilaku organisasi.
Kepribadian dan emosi
akan mempengaruhi individu didalam sebuah organisasi. Maka dari itu sangat
diperlukan seseorang untuk tahu dan mengerti apa itu kepribadian dan emosi baik
dari segi pengertian, ciri – ciri, dll. Dengan penguasaan materi tentang
Kepribadian dan Emosi ini diharapkan setiap individu akan bisa menempatkan
dirinya didalam sebuah organisasi setelah menguasai materi tersebut.
Keberhasilan sebuah organisasi sangat ditentukan oleh setiap individu di
dalamnya.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apakah
definisi dari Kepribadian dan emosi, ciri – ciri, dimensi emosi, serta
pengaruhnya terhadap prilaku dalam organisasi ?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Untuk
mengetahui definisi dari Kepribadian dan emosi secara psikologis maupun
definisi sehari harinya, ciri – ciri, atribut kepribadian utama yang
mempengaruhi prilaku oraganisasi, serta mengetahui kepribadian dan budaya
nasional.
1.3.2 Untuk
mengetahui dimensi dimensi emosi dan batas ekternal emosi terhadap prilaku
organisasi.
1.4 Manfaat Penulisan
1.4.1
Manfaatnya untuk Mahasiswa adalah sebagai panduan atau tunjangan dalam mata
kuliah Prilaku organisasi.
1.4.2 Manfaatnya
Untuk Fakultas adalah sebagai tambahan karya tulis untuk memperkaya materi
mengenai Prilaku Organisasi.
1.4.3 Manfaatnya
untuk Masyarakata dan dunia kerja, jika seseorang telah mengerti apa itu
kepribadian dan emosi dan tau cara mengendalikannya dalam dunia organisasi maka
akan sangat berguna untuk kemajuan sebuah perusahaan dan masyarakat.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Pengertian Perilaku Organisasi
Menurut Thoha (2007:5)
perilaku organisasi merupakan suatu studi yang menyangkut aspek-aspek
tingkah laku manusia dalam suatu organisasi atau suatu kelompok tertentu.
Menurut Duncan dalam
Thoha (2007:5) hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam suatu perilaku
organisasi adalah sebagai berikut:
1.
Studi perilaku
organisasi termasuk didalamnya bagian-bagian yang relevan dari semua ilmu
tingkah laku yang berusaha menjelaskan
2.
Tindakan-tindakan
manusia didalam organisasi.
3.
Perilaku organisasi
sebagaiman suatu disiplin ilmu mengenai bahwa individu dipengaruhi oleh
bagaimana pekerjaan diatur adan siapa yang bertanggung jawab untuk
pelaksanaannya.
4.
Walaupun dikenal adanya
keunikan pada individu, namun perilaku organisasi masih memusatkan
pada kebutuhan manajer untuk menjamin bahwa keseluruhan tugas pekerjaan
yang bisa dijalankan.
2.2 Pengertian
Kepribadian
Kepribadian
merupakan pola khas seseorang dalam berpikir, merasakan dan
berperilaku yang relatif stabil dan dapat diperkirakan (Dorland, 2002).
Kepribadian juga merupakan jumlah total kecenderungan bawaan atau
herediter dengan berbagai pengaruh dari lingkungan serta pendidikan, yang
membentuk kondisi kejiwaan seseorang dan mempengaruhi sikapnya terhadap
kehidupan (Weller, 2005). Berdasarkan pengertian tersebut, dapat
disimpulkan bahwa kepribadian meliputi segala corak perilaku dan sifat
yang khas dan dapat diperkirakan pada diri seseorang, yang
digunakan untuk bereaksi dan menyesuaikan diri terhadap rangsangan,
sehingga corak tingkah lakunya itu merupakan satu kesatuan fungsional
yang khas bagi individu itu.
2.3
Pengertian Emosi
Istilah emosi menurut
Daniel Goleman (1995), seorang pakar kecerdasan emosional, yang diambil dari
Oxford English Dictionary memaknai emosi sebagai setiap kegiatan atau
pergolakan pikiran, perasaan, nafsu, setiap keadaan mental yang hebat dan
meluap-luap. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa emosi merujuk kepada suatu
perasaan dan pikiran-pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis,
dan serangkaian kecendrungan untuk bertindak.
Menurut Chaplin (1989) dalam Dictionary of psychology, emosi adalah sebagai suatu keadaan yang terangsang dari organisme mencakup perubahan-perubahan yang disadari, yang mendalam sifatnya dari perubahan perilaku. Chaplin (1989) membedakan emosi dengan perasaan, parasaan (feelings) adalah pengalaman disadari yang diaktifkan baik oleh perangsang eksternal maupun oleh bermacam-macam keadaan jasmaniah.
Menurut Chaplin (1989) dalam Dictionary of psychology, emosi adalah sebagai suatu keadaan yang terangsang dari organisme mencakup perubahan-perubahan yang disadari, yang mendalam sifatnya dari perubahan perilaku. Chaplin (1989) membedakan emosi dengan perasaan, parasaan (feelings) adalah pengalaman disadari yang diaktifkan baik oleh perangsang eksternal maupun oleh bermacam-macam keadaan jasmaniah.
Menurut Crow & Crow
(1958), emosi adalah “an emotion, is an affective experience that accompanies
generalized inner adjustment and mental and physiological stirredup states in
the individual, and that shows it self in his evert behaviour”. Jadi, emosi
adalah warna afektif yang kuat dan ditandai oleh perubahan-perubahan fisik.
Menurut Hurlock (1990), individu yang dikatakan matang emosinya yaitu:
1.
Dapat melakukan kontrol
diri yang bisa diterima secara sosial. Individu yang emosinya matang mampu
mengontrol ekspresi emosi yang tidak dapat diterima secara social atau
membebaskan diri dari energi fisik dan mental yang tertahan dengan cara yang
dapat diterima secara sosial.
2.
Pemahaman diri.
Individu yang matang, belajar memahami seberapa banyak kontrol yang
dibutuhkannya untuk memuaskan kebutuhannya dan sesuai dengan harapan masyarakat
3.
Menggunakan kemampuan
kritis mental. Individu yang matang berusaha menilai situasi secara kritis
sebelum meresponnya, kemudian memutuskan bagaimana cara bereaksi terhadap
situasi tersebut Kematangan emosi (Wolman dalam Puspitasari, 2002) dapat
didefinisikan sebagai kondisi yang ditandai oleh perkembangan emosi dan
pemunculan perilaku yang tepat sesuai dengan usia dewasa dari pada
bertingkahlaku seperti anak-anak. Semakin bertambah usia individu diharapkan
dapat melihat segala sesuatunya secara obyektif, mampu membedakan perasaan dan
kenyataan, serta bertindak atas dasar fakta dari pada perasaan.
Menurut Kartono (1988)
kematangan emosi sebagai kedewasaan dari segi emosional dalam artian individu
tidak lagi terombang ambing oleh motif kekanak- kanakan. Chaplin (2001)
menambahkan emosional maturity adalah suatu keadaan atau kondisi mencapai
tingkat kedewasaan dari perkembangan emosi dan karena itu pribadi yang
bersangkutan tidak lagi menampilkan pola emosional yang tidak pantas.
Smith (1995)
mendefinisikan kematangan emosi menghubungkan dengan karakteristik orang yang
berkepribadian matang. Orang yang demikian mampu mengekspresikan rasa cinta dan
takutnya secara cepat dan spontan. Sedangkan pribadi yang tidak matang memiliki
kebiasaan menghambat perasaan- perasaannya. Sehingga dapat dikatakan pribadi
yang matang dapat mengarahkan energi emosi ke aktivitas-aktivitas yang sifatnya
kreatif dan produktif. Senada dengan pendapat di atas Covey (dalam Puspitasari,
2002) mengemukakan bahwa kematangan emosi adalah kemampuan untuk
mengekspresikan perasaan yang ada dalam diri secara yakin dan berani, diimbangi
dengan pertimbangan-pertimbangan akan perasaan dan keyakinan individu lain.
Menurut pandangan
Skinner (1977) esensi kematangan emosi melibatkan kontrol emosi yang berarti
bahwa seseorang mampu memelihara perasaannya, dapat meredam emosinya, meredam
balas dendam dalam kegelisahannya, tidak dapat mengubah moodnya, tidak mudah
berubah pendirian. Kematangan emosi juga dapat dikatakan sebagai proses belajar
untuk mengembangkan cinta secara sempurna dan luas dimana hal itu menjadikan
reaksi pilihan individu sehingga secara otomatis dapat mengubah emosi-emosi
yang ada dalam diri manusia (Hwarmstrong, 2005).
Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa emosi adalah suatu respons terhadap suatu perangsang yang
menyebabkan perubahan fisiologis disertai perasaan yang kuat dan biasanya
mengandung kemungkinan untuk meletus.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Definisi
Kepribadian
Kepribadian adalah keseluruhan cara di mana
seorang individu bereaksi dan berinteraksi dengan individu lain.
Kepribadian paling sering dideskripsikan dalam istilah sifat yang bisa
diukur yang ditunjukkan oleh seseorang.
3.1.1
Kepribadian menurut pengertian sehari-hari
Disamping itu
kepribadian sering diartikan dengan ciri-ciri yang menonjol pada diri individu,
seperti kepada orang yang pemalu dikenakan atribut “berkepribadian pemalu”.
Kepada orang supel diberikan atribut “berkepribadian supel” dan kepada orang
yang plin-plan, pengecut, dan semacamnya diberikan atribut “tidak punya
kepribadian”.
3.1.2
Kepribadian menurut psikologi
Berdasarkan penjelasan Gordon Allport tersebut kita dapat melihat bahwa kepribadian sebagai
suatu organisasi (berbagai aspek psikis dan fisik) yang merupakan suatu
struktur dan sekaligus proses. Jadi, kepribadian merupakan sesuatu yang dapat
berubah. Secara eksplisit Allport menyebutkan, kepribadian secara teratur
tumbuh dan mengalami perubahan.
Dalam suatu
penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. Allport (Calvin S. Hall
dan Gardner Lindzey, 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian
yang berbeda-beda. Berangkat dari studi yang dilakukannya, akhirnya dia
menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. Menurut
pendapat dia bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu
sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan
diri terhadap lingkungannya. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah
penyesuaian diri. Scheneider (1964) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu
proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya
mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri, ketegangan emosional, frustrasi
dan konflik, serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut
dengan tuntutan (norma) lingkungan.
3.2 Faktor Penentu
Kepribadian
3.2.1 Faktor keturunan
Keturunan
merujuk pada faktor genetis seorang individu. Tinggi fisik, bentuk wajah, gender, temperamen, komposisi otot dan refleks, tingkat energi dan irama biologis adalah karakteristik yang pada umumnya dianggap, entah
sepenuhnya atau secara substansial, dipengaruhi oleh siapa orang tua dari individu tersebut, yaitu komposisi biologis, psikologis, dan psikologis bawaan
dari individu. Terdapat tiga dasar penelitian yang berbeda yang memberikan
sejumlah kredibilitas terhadap argumen bahwa faktor keturunan memiliki peran penting dalam menentukan kepribadian
seseorang. Dasar pertama berfokus pada penyokong genetis dari perilaku dan temperamen anak-anak. Dasar kedua berfokus pada anak-anak kembar yang
dipisahkan sejak lahir. Dasar ketiga meneliti konsistensi kepuasan kerja dari waktu ke waktu dan dalam berbagai situasi. Penelitian terhadap anak-anak memberikan dukungan yang kuat
terhadap pengaruh dari faktor keturunan. Bukti menunjukkan bahwa sifat-sifat
seperti perasaan malu,
rasa takut, dan agresif dapat dikaitkan dengan karakteristik genetis
bawaan. Temuan ini mengemukakan bahwa beberapa sifat kepribadian mungkin
dihasilkan dari kode genetis sama yang memperanguhi faktor-faktor seperti
tinggi badan dan warna rambut.
Para
peneliti telah mempelajari lebih dari 100 pasangan kembar identik yang
dipisahkan sejak lahir dan dibesarkan secara terpisah. Ternyata peneliti
menemukan kesamaan untuk hampir setiap ciri perilaku, ini menandakan bahwa bagian variasi yang signifikan di
antara anak-anak kembar ternyata terkait dengan faktor genetis. Penelitian ini
juga memberi kesan bahwa lingkungan pengasuhan tidak begitu memengaruhi perkembangan
kepribadian atau dengan kata lain, kepribadian dari seorang kembar identik yang dibesarkan di keluarga yang berbeda ternyata lebih mirip dengan pasangan
kembarnya dibandingkan kepribadian seorang kembar identik dengan saudara-saudara kandungnya yang dibesarkan bersama-sama.
3.2.2 Faktor lingkungan
Faktor
lain yang memberi pengaruh cukup besar terhadap pembentukan karakter adalah
lingkungan dimana seseorang tumbuh dan dibesarkan norma dalam keluarga,teman, dan kelompok
sosial,dan pengaruh-pengaruh lain yang seorang manusia dapat alami.
Faktor
lingkungan ini memiliki peran dalam membentuk kepribadian seseorang. Sebagai
contoh, budaya membentuk norma, sikap, dan nilai yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya
dan menghasilkan konsistensi seiring berjalannya waktu sehingga ideologi yang secara intens berakar di suatu kultur mungkin
hanya memiliki sedikit pengaruh pada kultur yang lain. Misalnya, orang orang Amerika Utara
memiliki semangat ketekunan, keberhasilan, kompetisi, kebebasan, dan etika
kerja Protestan yang terus
tertanam dalam diri mereka melaluibuku, sistem sekolah, keluarga, dan teman, sehingga orang-orang tersebut cenderung ambisius dan
agresif bila dibandingkan dengan individu yang dibesarkan dalam budaya yang menekankan hidup bersama individu lain, kerja sama, serta memprioritaskan keluarga daripada pekerjaan dan
karier.
3.3 Ciri –
ciri Kepribadian
Semakin konsisten karakteristik individu dan semakin sering
terjadi dalam berbagai situasi, maka semakin penting ciri-ciri itu untuk
menggambarkan individu.
1.
Pencarian awal
atas ciri-ciri primer : Ada 16
ciri-ciri yang dianggap sebagai sumber perilaku yang konstan dan mantap yaitu :
pendiam – ramah, kurang
cerdas – lebih cerdas, dipengaruhi oleh perasaan – stabil secara emosional,
penurut – dominan, serius – tak kenal susah, bijaksana – berhati-hati,
malu-malu – suka bertualang, keras – sensitif, percaya – curiga, praktis –
imaginatif, jujur – lihai, yakin – ragu-ragu, konservatif, suka bereksperimen,
tergantung kelompok – mandiri, tak terkendali – terkendali, santai – tegang.
2.
The Myers-Briggs
Type Indicator (MBTI) : adalah
salah satu kerangka kerja kepribadian dengan 100 pertanyaan yang menanyakan
kepada orang bagaimana mereka biasanya bertindak atau merasa dalam situasi
tertentu. Individu pada akhirnya akan diklasifikasikan sebagai
ekstrovet (E) dan
intovert (I), sensing (S) atau intuitif (N), berpikir (T) atau merasa (F), dan
memahami (P) atau menilai (J). Hasilnya nanti akan dirangkai seperti misalnya
INTJ dalah kaum visioner, ESTJ adalah pengorganisasi, ENTP adalah pengagas,
dllnya.
3.
Model lima besar : adalah 5 dimensi dasar hasil riset terbaru yang
melandasi semua ciri dan meliputi sebagian besar variasi yang signifikan dalam
kepribadian manusia, yaitu :
a.
Ekstraversi : mencakup
tingkat kesenangan seseorang akan hubungan. Orang yang ekstravert akan
cenderung suka berkelompok, tegas, dan mampu bersosialisasi. Kaum introvert
cenderung pendiam, malu-malu, dan tenang.
b.
Kemampuan untuk
bersepakat : merujuk pada kecennderungan untuk tunduk pada orang lain. Orang
yang skornya tinggi akan kooperatif, hangat, dan percaya. Sedangkan yang rendah
akan dingin, tidak mampu bersepakat, dan antagonistik.
c.
Sifat mendengarkan
suara hati : merupakan ukuran dari keandalan. Orang yang peka terhadap suara
hati akan bertanggung jawab, terorganisir, dapat dipercaya, dan gigih.
Sedangkan yang sebaliknya akan mudah bingung, tidak terorganisir, dan tidak
handal.
d.
Stabilitas emosional :
merujuk pada kemampuan untuk bertahan terhadap stress. Orang yang skornya
tinggi akan cenderung tenang, percaya diri, dan aman. Yang sebalinya akan
cenderung gelisah, cemas, gugup, tertekan, dan tidak aman.
e.
Keterbukaan terhadap pengalaman : merujuk pada
kisaran minat individual dan kekaguman terhadap hal baru. Orang yang terbuka
akan kreatif, ingin tahu, dan sensitif secara artistik. Sedangkan yang
sebaliknya akan konvensional dan menemukan kenyamanan dalam keakraban.
Penelitian atas kredibilitas Lima Besar ini menghasilkan
sejumlah besar bukti bahwa individu yang dapat dipercaya, andal, hati-hati,
teliti, mampu membuat rencana, terorganisasi, kerja keras, gigih, dan
berorientasi pada prestasi cenderung memilki jabatan yang lebih tinggi dalam
sebagian besar atau semua kedudukan.
3.4 Kepribadian
Utama Yang Mempengaruhi Prilaku Organisasi
3.4.1 Evaluasi inti
diri
Evaluasi inti diri
adalah tingkat di mana individu menyukai atau tidak menyukai diri mereka
sendiri, apakah mereka menganggap diri mereka cakap dan efektif, dan apakah
mereka merasa memegang kendali atau tidak berdaya atas [lingkungan]] mereka.
Evaluasi inti diri seorang individu ditentukan oleh dua elemen utama: harga diri dan lokus kendali. Harga diri didefinisikan
sebagai tingkat menyukai diri sendiri dan tingkat sampai mana individu
menganggap diri mereka berharga atau tidak berharga sebagai seorang
manusia.
3.4.2 Machiavellianisme
Machiavellianisme
adalah tingkat di mana seorang individu pragmatis, mempertahankan jarak
emosional, dan yakin bahwa hasil lebih penting daripada proses. Karakteristik
kepribadian Machiavellianisme berasal dari nama Niccolo Machiavelli, penulis
pada abad keenam belas yang menulis tentang cara mendapatkan dan menggunakan
kekuasaan.
3.4.3 Narsisisme
Narsisisme adalah
kecenderungan menjadi arogan, mempunyai rasa kepentingan diri yang berlebihan,
membutuhkan pengakuan berlebih, dan mengutamakan diri sendiri. Sebuah
penelitian mengungkap bahwa ketika individu narsisis berpikir mereka adalah
pemimpin yang lebih baik bila dibandingkan dengan rekan-rekan mereka, atasan
mereka sebenarnya menilai mereka sebagai pemimpin yang lebih buruk. Individu
narsisis seringkali ingin mendapatkan pengakuan dari individu lain dan
penguatan atas keunggulan mereka sehingga individu narsisis cenderung memandang
rendah dnegan berbicara kasar kepada individu yang mengancam mereka. Individu
narsisis juga cenderung egoisdan eksploitif, dan acap kali memanfaatkan sikap yang
dimiliki individu lain untuk keuntungannya.
3.4.4 Pemantauan
diri
Pemantauan diri adalah
kemampuan seseorang untuk menyesuaikan perilakunya dengan faktor situasional
eksternal. Individu dengan tingkat pemantauan diri yang tinggi menunjukkan
kemampuan yang sangat baik dalam menyesuaikan perilaku dengan faktor-faktor
situasional eksternal. Bukti menunjukkan bahwa individu dengan tingkat
pemantauan diri yang tinggi cenderung lebih memerhatikan perilaku individu lain
dan pandai menyesuaikan diri bila dibandingkan dengan individu yang memiliki
tingkat pemantauan diri yang rendah.
3.4.5 Kepribadian tipe
A
Kepribadian tipe A
adalah keterlibatan secara agresif dalam perjuangan terus-menerus untuk
mencapai lebih banyak dalam waktu yang lebih sedikit dan melawan upaya-upaya
yang menentang dari orang atau hal lain. Dalam kultur Amerika Utara,
karakteristik ini cenderung dihargai dan dikaitkan secara positif dengan ambisi
dan perolehan barang-barang material yang berhasil. Karakteristik tipe A
adalah:
1.
selalu bergerak,
berjalan, dan makan cepat;
2.
merasa tidak sabaran;
3.
berusaha keras untuk
melakukan atau memikirkan dua hal pada saat yang bersamaan;
4.
tidak dapat menikmati
waktu luang;
5.
terobsesi dengan
angka-angka, mengukur keberhasilan dalam bentuk jumlah hal yang bisa mereka
peroleh.
3.4.6 Kepribadian
proaktif
Kepribadian proaktif
adalah sikap yang cenderung oportunis, berinisiatif, berani bertindak, dan
tekun hingga berhasil mencapai perubahan yang berarti. Pribadi proaktif
menciptakan perubahan positif daalam lingkungan tanpa memedulikan batasan atau
halangan.
3.5 Kepribadian
Dan Budaya Nasional
Tidak ada tipe
kepribadian umum untuk satu negara tertentu. Namun budaya suatu negara
mempengaruhi karakteristik yang dominan dari penduduknya, Ini dapat dilihat
dengan memperhatikan lokus kendali dan kepribadian tipe A. Misalnya saja, dalam
budaya seperti Amerika Utara, orang percaya bahwa mereka dapat mendominasi
lingkungan mereka, sebaliknya dengan orang-orang di Timur Tengah. Hal ini
menyebabkan proporsi orang-orang internal dalam angkatan kerja Amerika lebih
besar daripada angkatan kerja Arab saudi dan Iran.
Sedangkan kepribadian
tipe A akan paling banyak di negara-negara kapitalis, misalnya Amerika dan
Kanada, dimana prestasi dan keberhasilan material sangat dihargai. Sementara
dinegara seperti Swedia dan Prancis tidak.
3.6 Mencapai Kecocokan
Kepribadian
Kecocokan orang dengan pekerjaan adalah mencocokkan enam tipe kepribadian dan
mengemukakan bahwa kecocokkan antara tipe kepribadian dan lingkungan kedudukan
menentukan kepuasan dan keluar masuknya karyawan. Teori ini dikemukakan oleh
John Holland, tipe-tipenya antara lain :
a.
Realistis : menyukai
kegiatan fisik yang menuntut ketrampilan, kekuatan, dan koordinasi. Karakternya
adalah pemalu, tahan, stabil, mudah menyesuaikan diri, dan praktis.
b.
Investigatif : menyukai
kegiatan yang mencakup pemikiran, pengorganisasian, dan pemahaman. Karakternya
adalah analitis, asli, ingin tahu, dan independen.
c.
Sosial : menyukai
kegiatan yang mencakup membantu dan mengembangkan yang lain. Karakternya adalah
mampu bergaul, bersahabat, kooperatif, dan memahami.
d.
Konvensional : menyukai
kegiatan yang diatur dengan peraturan, jelas, dan tidak bersifat mendua.
Karakternya adalah mudahmenyesuaikan diri, efisien, praktis, tidak imaginatif,
tidak luwes.
e.
Enterprising : menyukai
kegiatan verbal dimana ada peluang untuk mempengaruhi yang lai dan mendapatkan
kekuasaan. Karakternya adalah percaya diri, ambisi, energetik, dan mendominasi.
f.
Artistik : menyukai
kegiatan yang bersifat mendua dan tidak sistematik, yang memungkinkan ekspresi
yang kreatif. Karakternya adalah imaginatif, tidak teratur, idealistis,
emosional, dan tidak praktis.
Teori ini mengatakan
bahwa kepuasan paling tinggi berarti keluar masuknya karyawan paling rendah
bila kepribadian dan kedudukan/jenis pekerjaannya sesuai.
Kecocokan organisasi-orang : yaitu bahwa orang meninggalkan pekerjaan yang tidak cocok
dengan kepribadiannya.
3.7 Defini Emosi
Sebuah organisasi yang
berjalan baik adalah organisasi yang berhasil meniadakan frustasi, takut,
marah, benci, marah, gembira, dls. Emosi-emosi tersebut adalah antithesis dari
rasionalitas. Beberapa emosi, terutama bila ditampilkan pada saat yang salah,
dapat mengurangi kinerja karyawan. Namun realitasnya tetap saja bahwa karyawan
membawa serta satu komponen emosi bersama mereka ke tempat kerjanya dan tidak
ada studi yang komprehensif tanpa mempertimbangkan peran dari emosi ditempat
kerja.
Berkaitan dengan emosi,
ada 3 hal yang terjalin erat satu sama lain, yaitu pengaruh (affect), emosi, dan
suasana hati (mood). Pengaruh meliputi kisaran luas perasaan yang dialami
orang, merupakan satu konsep yang meliputi baik emosi maupun suasana hati.
Akhirnya, suasana hati adalah perasaan yang cenderung menjadi kirang intens
dibandingkan emosi, dan yang kekurangan stimulus kontekstual.
Emosi adalah reaksi
terhadap suatu objek, bukan suatu sifat. Sedangkan suasana hati tidak dikaitkan
dengan suatu objek. Emosi dapat berubah menjadi suasana hati bila kita
kehilangan fokus pada objek yang kontekstual.
Berkaitan dengan
perilaku organisasi, satu istilah yang terkait adalah tenaga kerja emosional,
yang terjadi apabila karyawan mengekspresikan secara organisasional emosi yang
diinginkannya selama transaksi antar pribadi. Dulunya konsep ini dikembangkan
berkaitan dengan pekerjaan-pekerjaan jasa, namun dewasa ini konsep tersebut
telah menjadi relevan dengan hampir setiap pekerjaan. Dalam tuntutannya,
karyawan perlu membedakan antara emosi yang dirasakan dengan emosi yang
ditunjukkan agar tidak terjadi dilema.
3.8 Dimensi emosi
Emosi ada beberapa jenis berdasarkan :
a.
Varietas : riset
mengidentifikasikan enam emosi yang universal, yaitu kemarahan, ketakutan,
kesedihan, kegembiraan, kejijikan, dan kejutan. Enam emosi ini dapat
dikonseptualisasikan sebagai terus ada sepanjang satu kontinuum, dimana semakin
dekat jarak dua emosi apapun pada kontinuum tersebut akan semakin membingungkan
orang. Contohnya adalah kebahagiaan dan kejutan sering dikacaukan, sementara
kebahagiaan dan kemuakan jarang sekali.
b.
Intensitas : ekspresi
yang berbeda dari intensitas emosi yang sama bisa disebabkan dari kepribadian
ataupun tuntutan ditempat kerja. Ada orang yang terkendali, tidak pernah
memperlihatkan rasa marah, namun ada pula yang sebaliknya. Tentu saja hal ini
harus disesuaikan dengan pekerjaan. Presenter misalnya, harus menunjukkan
intensitas emosi yang sesuai dengan acara yang dibawakannya.
c.
Frekuensi dan durasi :
frekuensi dan durasi yang diperlukan untuk tenaga kerja emosional juga harus
disesuaikan dengan kemampuan frekuensi dan durasi yang dimiliki karyawan.
3.9 Jenis kelamin dan emosi
Bukti menunjukkan bahwa
perbedaan antara pria dan wanita dalam hal emosi adalah bila menyangkut reaksi
emosional dan kemampuan untuk membaca orang lain. Wanita menunjukkan ungkapan
emosi yang lebih besar daripada pria, mengalami emosi secara lebih hebat, lebih
nyaman dalammengungkapkan emosi, lebih baik dalam membaca petunjuk-petunjuk
non-verbal dan paralinguistik, dan lebih sering menampilkan ekspresi dari emosi
yang positif maupun negatif, kecuali kemarahan.
Batasan-batasan
eksternal terhadap emosi
Batasan-batasan eksternal ada 2, yaitu :
- Pengaruh organisasional, menyesuaikan dengan perangkat
emosional yang dicari organisasi.
- Pengaruh budaya, menyesuaikan dengan norma-norma budaya di
negara setempat.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Kepribadian adalah
keseluruhan cara di mana seorang individu bereaksi dan berinteraksi
dengan individu lain. Kepribadian paling sering dideskripsikan dalam istilah
sifat yang bisa diukur yang ditunjukkan oleh seseorang.
Emosi adalah reaksi
terhadap suatu objek, bukan suatu sifat. Sedangkan suasana hati tidak dikaitkan
dengan suatu objek. Emosi dapat berubah menjadi suasana hati bila kita
kehilangan fokus pada objek yang kontekstual
4.2 Saran
Seperti yang kita
ketahui kepribadian dan emosi memilki definisi dan ciri ciri yang sudah
disebutkan diatas, maka untuk dapat meningkatkan kinerja dalam prilaku
organisasi kita hendaknya tahu betul apa itu pengertian ciri manfaat serta
memahami apa itu emosi dan kepribadian seseorang sehingga dalam proses
pengorganisasian tidak terjadi kesalahan dalam perekrutan di dunia kerja
nantinya.
DAFTAR PUSTAKA
http://yasinta.net/kepribadian-dan-emosi/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar