Makalah Manajemen Pendidikan
merupakan
makalah yang membahas ruanglingkup dari pendidikan, Orientasi studi manajemen pendidikan masih
cenderung melihat sesuatu yang tampak di mata (tangible), kurang memperhatikan sesuatu
yang tidak kelihatan (intangible) seperti nilai, tradisi dan norma yang
menjadi budaya organisasi, dan ada di dalam sebuah organisasi.
1. Latar Belakang Makalah Pendidikan.
Penyelenggaraan pendidikan di sekolah dipandang sebagai suatu sistem “dimana
komponen-komponen system itu saling ketergantungan sehingga berhubungan
dan saling menentukan keberhasilan suatu sistem, kegagalan suatu sekolah
diakibatkan oleh gangguan sub sistem itu. Kepala sekolah yang menjalankan kepemimpinannya harus mampu mengatasi kegagalan/hambatan sub sistem agar
tercapai kesempurnaan sistem itu.
Hal
ini didukung oleh pakar pendidikan Prof. Dr. Oteng Sutisna, M,Sc. Guru besar FKIP dalam
bukunya “Berpikir System” terbitan 1984, hal. 76. Perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi dari negara-negara maju sangat cepat, sangat
cepat pula merupabah pola pikir masyarakat, hal ini mengakibatkan program
pendidikan dan pengajaran lebih ketinggalan bila dibandingkan dengan kebutuhan
masyarakat, hal ini merupakan tantangan bagi penyelenggaraan pendidikan agar
tidak statis dalam menambah wawasan dari berpikir dinamis untuk menghasilkan
tamatan yang berkualitas.
Pengaruh
kepemimpinan bisa diartikan, dampak akibat kebijakan dan keputusan yang
dilakukan oleh seorang pimpinan dalam hal ini Kepala sekolah. Bila dalam
menentukan keputusan dan kebijaksanaan salah maka akan terjadi dampak-dampak
negatif yang berakibat kegagalan dalam mencapai tujuan. Bisanya muncul
·
Konflik antar personil
·
Semangat kerja menurun
·
Disiplin kerja rendah
·
Tidak merasa memiliki dan merasa tanggung jawab bersama
·
Tidak muncul keteladanan
·
Fungsi-fungsi manajemen tidak diaplikasikan dalam
kegiatan sehari-hari.
·
Iklim kerja tidak menyenangkan
·
Persoalan dan permasalahan tertutup
2. Rumusan Masalah
Manajemen sekolah merupakan faktor yang terpenting dalam
menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran di sekolah yang keberhasilannya
diukur oleh prestasi tamatan (out put), oleh karena itu dalam menjalankan
kepemimpinan, harus berpikir “sistem” artinya dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah
komponen-komponen terkait seperti: guru-guru, staff TU, Orang tua siswa/Masyarakat, Pemerintah, anak didik, dan
lain-lain harus berfungsi optimal yang dipengaruhi oleh kebijakan dan kinerja
pimpinan.
Tantangan
lembaga pendidikan (sekolah) adalah mengejar ketinggalan artinya kompetisi dalam
meraih prestasi terlebih dalam menghadapi persaingan global, terutama dari
Sekolah Menengah Kejuruan dimana tamatan telah memperoleh bekal pengetahuan,
sikap dan keterampilan sebagai tenaga professional tingkat menengah hal ini
sesuai dengan tuntunan Kurikulum SMK 2004.
Tantangan
ini akan dapat teratasi bila pengaruh kepemimpinen sekolah terkonsentrasi pada
pencapaian sasaran dimaksud. Pengaruh kepemimpinan Kepala Sekolah disamping
mengejar ketinggalan untuk mengatasi tantangan tersebut di atas, hal-hal lain
perlu diperhatikan: Ciptakan keterbukaan dalam proses penyelenggaraan
pendidikan dan pengajaran. Ciptakan iklim kerja yang menyenangkan Berikan
pengakuan dan penghargaan bagi personil yang berprestasi Tunjukan keteladanan
Terapkan fungsi-fungsi manajemen dalam proses penyelenggaraan pendidikan,
seperti: Perencanaan Pengorganisasian Penentuan staff atas dasar kemampuan,
kesanggupan dan kemauan Berikan bimbingan dan pembinaan kearah yang menuju
kepada pencapaian tujuan Adalah kontrol terhadap semua kegiatan penyimpangan sekecil
apapun dapat ditemukan sehingga cepat teratasi Adakan penilaian terhadap semua
program untuk mengukurkeberhasilan serta menemukan cara untuk mengatasi kegagalan.
2.
Tujuan Pembahasan Masalah
1.
Kemampuan berpikir sistem artinya memahami bahwa suatu
kesatuan yang utuh didukung oleh komponen-komponen (bagian-bagian) yang satu
sama lain saling ketergantungan apabila komponen-komponen itu tidak berjalan
maka tidak akan terbentuk suatu kesatuan yang utuh dalam hal ini bisa
diterapkan dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Agar proses
penyelenggaraan pendidikan di sekolah merupakan suatu kesatuan yang utuh maka
program akan berjalan dengan lancar dan tujuan akan tercapai.
2.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
merupakan tantangan. Kepemimpinan suatu lembaga pendidikan merupakan wawasan
yang perlu dipahami agar pengaruh pimpinan sekolah diarahkan kepada peningkatan
semua tenaga kependidikan (guru tata usaha) berpikir dinamismenuju
pencapaian/prestasi siswa sebagai objek pendidikan.
3.
Pengaruh pimpinan dalam melaksanakan tugasnya harus
berorientasi kepada terciptanya:
§ Keterbukaan
§ Iklim kerja yang
menyenangkan
§ Perasaan personil
diakui dan dihargai atas prestasi kerjanya
§ Saling menunjukan
keteladanan
§ Disiplin kerja yang
optimal
§ Penerapan manajemen
sekolah yang sempurna
BAB II
LANDASAN TEORI
Orientasi
studi manajemen pendidikan masih cenderung melihat sesuatu
yang tampak di mata (tangible), kurang memperhatikan sesuatu yang tidak
kelihatan (intangible) seperti nilai, tradisi dan norma yang menjadi budaya
organisasi, dan ada di dalam sebuah organisasi. Beberapa tahun terakhir
orangbanyak beranggapan bahwa strategi, struktur, dan sistem adaah fokus dan
faktor yang menjadi pendorong kusuksesan organisasi. Namun menurut Ouchi (1983)
dan Key (1999) menyatakan bahwa kesuksesan organisasi justru terletak pada
budaya organisasi yang meliputi nilai, tradisi, norma, yang direkat oleh
kepercayaan, keakraban dan tanggung jawab yang menentukan kesuksesan organisasi.
Sedangkan
menurut Basri (2004) menyatakan bahwa budaya organisasi dapat dijadikan sebagai
kekuatan organisasi apabila budaya organisasi tersebut dikelola dengan
baik. Untuk dapat mengelola budaya organisasi diperlukan pimpinan yang
transformatif, memahami filosofi organisasi, mampu merumuskan visi, misi
organisasi, dan menerapkannya melalui proses perencanaan organisasi. Dalam
tulisan ini akan diulas secara ringkas manajemen pendidikan dilihat dari
perspektif nilai dan budaya organisasi, walaupun banyak hal yang bisa dilihat
dari sudut padang berbeda. Pendekatan nilai dan budaya organisasi ini cenderung
lebih mempengaruhi
dalam pengambilan keputusan.
Organisasi
lembaga pendidikan
adalah suatu organisasi yang
unik dan kompleks karena lembaga pendidikan tersebut merupakan suatu lembaga
penyelenggara pendidikan. Tujuannya antara lain adalah menyiapkan peserta didik
menjadi anggota masyaraat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau profesional
yang dapat menerapkan, mengembangkan, memperkya khanazah ilmu pengetahuan,
teknologi, kesenian, serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf
kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional. Demikian komleksnya
organisasi tersebut, maka dalam memberikan layanan pendidikan kepada siswa
khususnya dan masyarakat pada umumnya organisasi perlu dikelola dengan baik.
Oleh sebab itu lembaga pendidikan perlu menyadari adanya pergeseran dinamika
internal (perkembangan dan perubahan peran) dan tuntutan eksternal yang semakin
berkembang.
Menurut
Jacques (1952) yang dikutip Hasri (2004), budaya organisasi didefinisikan
sebagai berikut:“the culture of the factory is its customary and traditional
way of thinking and doing of things, which shared to a greater or lesser degree
by all its member, and which new members must learn, and at least partially
accept, in order to be accepted into service in the firm” Sedangkan menurut
Manan (1989)
ada tujuh karakteristik budaya dasar yang bersifat universal yaitu:
§ Kebudayaan itu
dipelajari bukan bersifat instingtif
§ Kebudayaan itu
ditanamkan
§ Kebudayaan itu
bersifat gagasan (idetional0, kebiasaan-kebiasaan kelompok yang dikonsepsikan
atau diungkapkan sebagai norma-norma ideal atau pola perilaku
§ Kebudayaan itu
sampai pada suatu tingkat meuaskan individu, memuaskan kebutuhan biologis dan
kebutuhan ikutan liannya
§ Kebudayaan itu
bersifat integratif. Selalu ada tekanan ke arah konsistensi dalam setiap
kebudayaan
§ Kebudayaan itu
dapat menyesuaikan diri.Schein (1985) memberi definisi bahwa budaya organisasi
adalah pola asumsi dasar yang telah ditemukan suatu kelompok, ditentukan, dan
dikembangkan melalui proses belajar untuk menghadapi persoalan
penyesuaian (adaptasi) kelompok eksternal dan integrasi kelompok internal.
Pendapat
lain tentang budaya organisasi menyatakan bahwa budaya organisasi mengacu pada
suatu sistem pemaknaan bersama yang dianut oleh anggota organisasi dalam bentuk
nilai, tradisi, keyakinan (belief), norma, dan cara berpikir unik yang
membedakan organisasi itu dari organisasi lainnya (Ouchi, 1981).Berdasarkan
berbagai definisi di atas dapat disimpulkan bahwa budaya organisasi di lembaga
pendidikan adalah pemaknaan bersama seluruh anggota organisasi di suatu lembaga
pendidikan yang berkaitan dengan nilai, keyakinan, tradisi dan cara berpikir
unik yang dianutnya dan tampak dalam perilaku mereka, sehingga membedakan
antara lembaga pendidikan dengan lembaga pendidikan lainnya.
Terbentunya
sikap saling percaya bahwa kepercayaan yang diberikan oleh pimpinan kepada
bawahan akan memberikan daya rekat (social glue), tetapi ada beberapa karyawan
yang tidak bisa mengemban amanah kepercayaan tersebut. Beberapa datang tidak
tepat waktu, karena mereka beranggapan bahwa pimpinan mereka kurang layak
menjadi pemimpin (tidak dapat memimpin jalannya sidang/rapat). Keakraban
Disamping kepercayaan yang diberikan pimpinan kepada karyawan,
keakraban sesama karyawan juga merupakan hal yang menonjol dalam lembaga
pendidikan. Fakta membuktikan bahwa pekerjaan yang tidak dapat diselesaikan
oleh seorang karyawan akan dibantu karyawan lain yang mempunyai kelonggaran
waktu. Kejujuran dan Tanggung Jawab lembaga pendidikan yang berkyualitas
menekankan perlunya kejujuran dan tangggung jawab. Tanggung jawab karyawan
terhadap pekerjaannya terlihat dari kebersihan lingkungan, piket, ruangan kelas, dan
ruangan perpustakaan.
§ Pengertian Kinerja
Kinerja
(performance) atau prestasi kerja atas pencapaian kerja adalah suatu kemampuan
yang diukur berdasarkan pelaksanaan tugas sesuai dengan uraian tugasnya
(Notomirjo, 1992, 23).
§ Pengertian Personil Sekolah
Personil sekolah
adalah orang-orang yang terlibat dalam proses penyelenggaraan pendidikandi
sekolah.(Drs. NA Ametembun Administrasi Personil, 1983, 19).
Fungsi Sekolah
Sekolah
adalah lembaga resmi yang menyelenggarakan proses pembelaaran antara guru dan
murid sehingga timbul interaksi alammenambah pengetahuan, keterampilan dan
sikap.
§ Upaya Meningkatkan Kinerja
Personil Sekolah
Usaha
yang paling menentuka dalam meningkatkan kinerja personil sekolah terletak pada
kepemimpinan sekolah, pemimpin harus mampu memberikan pengaruh agar semua
bawahan guru-guru dan staff tata usaha agar berpartisipasi aktif secara
maksimal dalam pencapaian tujuan secara
Pengaruh pemimpin agar para personil berpartisipasi
secara maksimal antara lain:
1.
Kesejahteraan baik lahir maupun batin memperoleh
perhatian yang serius dari pimpinan.
2.
Pemecahan permasalahan dilandasi oleh sikap keterbukaan
3.
Pengakuan dan penghargaan atas prestasi kerja personil
diperhatikan oleh pimpinan.
4.
Penerapan manajemen sekolah didasari atas kemampuan,
kesanggupan dan kemauan personil.
5.
Pemimpin bertindak sebagai motivator
6.
Pemimpin bertindak sebagai dinamisator
7.
Menciptakan kerja sama yang harmonis
8.
Menghindari konflik antara personil
9.
Arif, bijaksana bila mengambil keputusan bagi setiap
personil tanpa membeda-bedakan individual.
10.
Hilangkan sikap suka dan tidak suka terhadap personil
sekolah
11.
Menciptakan rasa persaudaraan (sense of belonging).
Sumpah Pemuda 28
oktober 1928 adalah menjadi
tonggak kebangkitan kaum muda untuk berikar tentang satu Indonesia. Dimana
pemaknaan tersebut makin kabur, seakan-akan proyek nasoinalisme telah terkubur
hari ini. Cita-cita Indonesia antara masa lalu, saat ini, dan masa yang akan
datang hendak ditakar dengan takaran yang sama. Janji-janji meningkatkan
kesejahteraan rakyat hannya sebatas wancana-wancana yang tak kunjung
implementasinya. Sepertinya Indonesia selesai setelah terlepas dari belenggu
penjajahan dan berdaulat secara politik. Salah besar jika pemikiran kolektif
ini terus terpelihara.
Keindonesaiaan
adalah proyek yang terus bergerak, Indonesia harus mempunyai pandangan logika
kepentingan masa yang berbeda. Musuh yang amat nyata saat ini kemiskian,
ketidakadilan, kebodohan, pengangguran dan korupsi. Inilah wajah Indonesia yang
telah membuat tinding tebal sampai hari ini. Apakah ada cara untuk membongkar
dinding tebal itu? Satu-satunya jalan adalah Pemimpin yang mempunyai jiwa pemberani
Revolusioner.
Opini-opni fakta,
dimana kaum tua gagal dalam meneguhkan cita-cita keindonesiaan yang moderen.
Warisan kultur Orde baru masih sangat kental mempengaruhi cara kepemimpinan
politik kaum tua, bahkan ide reformasi dan demokratisasi pun gagal yang
ditafsirkan kedalam bentuk kebijakan untuk mengangkat kesejahteraan masyarakat
kecil. Pemilu gagal melahirkan pemimpin yang revolusioner seperti Hugo Chves
yang berani menentang intervensi Amerika dalam politik dan ekonomi di
Venezuela. Idealnya Tokoh-tokoh seperti ini yang harus di tampilakan dalam
pemilu 2009 nanti.
Selama ini pemilu
hanya di dominasi oleh kaum tua dan wajah-wajah lama warisan Orde Baru, alhasil
tidak menjadi obat yang mujarab bagi Indonesia hari ini. Maka wancana
kepemimpinan kaum muda menjadi alternative pemimpin 2009 nanti, kemudian di
hadirkan sebagi upaya mengembalikan proyek-proyek keindonesiaan yang gagal dipimpin
oleh kaum tua. Cita-cita berbangsa dan bernegara hendak diarahkan kembali pada
konsep mulianya, seperti yang dipertegas dalam pembukaan UUD 45, menciptakan
kesejahteraan umum bagi seluruh rakyat Indonesia, melindunggi bangsa dan
seluruh tumpah darah Indonesia, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan perdamaiyan abadi dan keadilan sosilal. Pembukaan UUD 1945
merupakan puncak dari proyek keindonesiaan, untuk menciptakannya diperlukan
pemimpin yang yang berorientasi pada properubahan.
Pada perayaan hari
Sumpah Pemuda 28 Oktober 2007 lalu, melahirkan iklar bersama: saatnya kaum muda
memimpin tokoh-tokoh muda seperti Sukardi Rinakit, Faisal Basri, Yudi Latif,
Ray Rangkuti, Efendi Ghazali dan tokoh-tokoh kaum muda lainnya (lihat Tempo
Sabtu,3/11) dengan lantang meneriakan kebangkitan kaum muda dan masyarakat luas
merindukan hadirnya pemimpin muda. Jelas bawha pendeklarasian ikrar oleh kaum
muda dipicu kekecewaan yang mendalam yang melihat pemerintahan yang selama ini dipimpin oleh kaum
tua yang tidak bervisi, dan penuh dengan atmosfer kepentingan. Sebelum kita
beranjak lebih jauh kepemimpinan kaum muda dalam politik praktis, muncul satu
pertanyaan yang mendasar apakah kepemimpinan kaum muda nantinya bisa meramu
suatu solusi untuk menyelamatkan Indonesia dari kemiskian, ketidakadilan,
kebodohan, pengangguran dan korupsi yang menjadi potret kelam wajah
negeri ini?
Berbicara tentang
kombinasi yang seharusnya harmonis, idealnya semangat kaum muda di kombinasikan
dengan pengalaman kaum tua sehingga tecipta sutu dialong-dialong yang bersiat
emansipatoris antara kaum muda dan kaum yang berpengalaman, sehingga nantinya
tercipata sutu dilalektika yang menuju Indonesia baru. Namun hal ini tidak
mudah, pendapat-pendapat fakta, komunikasi kedua kaum ini tidak sejalan, karena
arogansi kaum tua, mereka mengklaim kaum tua yang lebih berpengalaman, sedangan
kaum muda penuh dengan keidialisannya. Meski terkesan klise dialog adalah
jawabannya.
Krisis kepercayaan
intelektual kepemimpnan kaum tua telah membawa peluang kaum muda untuk
melangkah pada pemilu 2009 nanti, namu muncul pesimisme munkinkah pemilu 2009
melahirkan seorang pemimpin muda politik untuk menjadi Presiden.
Tantangan-tantangan yang menghalagi tampilnya tokoh-tokoh muda alternative
adalah minimnya partai-partai yang mendukung ide kepemimpinan kaum muda, ini
merupakan pokok permasalahan yang krusial. Jaringan-jaringan yang pro terhadap
kepemimpinan kaum muda adalah lebih didominasi oleh aktivis-aktivis yang
independent yang tidak brfaliasi dengan partai-partai politik. Permasalahan ini
muncul dikarenakan kurangnya respon oleh tokoh-okoh partai politik terhadap
kepemimpinan kaum muda, sehingga kepemimpinan kaum muda agak sulit diperjuangkan.
Dalam system
politik yang dihegomonikan partai, memang terasa sulit bagi prodemokrasi untuk
melakukan revolusi pemerintahan, karena tidak ada dukungan dari partai sebab di
dalam konsesus nasionalhanya dimungkinkan dilakukan partai politik untuk berhak
mengajukan calon-calon pimpinan pimpinan untuk dipilah dalam pemelihan umum.
Melihat
partai-partai yang hegomoni seperti Partai golkar, Partai Demokrasi Perjuangan
Indonesia, dan Partai Demokrat dimana pucuk ketua pimpinan dipegang oleh
kaum-kaum tua, sulit sekali buat memajukan tokoh muda alternative, baik didalm
tubuh partai maupun di luar partai. Minimnya partai-partai yang yang pro
terhadap pimpinan muda akan menyulitkan masyarakat yang pro terhadap
kepemimpinan kaum muda melakukan perubahan. Seperti yang dikatakan tokoh
politik Abdul Gafur Sangaji, partai-partai hanya melakuakn daur ulang terhadap
tokoh-tokoh tua yang sudah ada.
Tokoh-tokoh
prodemokrasi sangat kecewa dengan partai-partai politik dikarenakan tidak
tersedianya space bagi tokoh-tokoh muda didalam tubuh partai maupun di luar
partai ini menyulitkan tokoh-tokoh muda untuk bisa melakukan perubahan,
terlebih lagi tokoh-tokoh prodemokrasi bersikap antipartai yang mana lebih
menyulitkan lagi untuk tokoh-tokoh muda untuk menjadi pemimpin alternative.
Seharusnya tokoh-tokoh prodemokrasi lebih mendekatkan diri pada partai politik,
karena partai politiklah yang merupakan isatu-satunya demokrasi yang bisa
mencapai kekuasaan. Semakin banyaknya aktivis demokrasi yang menyebar kedalam
tubuh partai, kemungkinan besar peluang kekuasaan dipegang oleh tokoh-tokoh
kepemimpinan muda untuk membawa negeri ini ke jalur mulianya.
MANAJEMEN PEDIDIKAN
A.
Pengertian Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah kegiatan
mempengaruhi perilaku orang-orang lain agar mau bekerjasama untuk mencapai
tujuan tertentu. Definisi itu mengandung dua pengertian pokok yang sangat
penting tentang kepemimpinan, yaitu
§
Pertama, mempengaruhi perilaku orang
lain. Kepe-mimpinan dalam organisasi diarahkan untuk mempengaruhi orang-orang
yang dipimpinnya, agar mau berbuat seperti yang diharapkan ataupun diarahkan
oleh orang yang memimpinnya. Motivasi o-rang untuk berperilaku ada dua macam,
yaitu motivasi ekstrinsik
dan motivasi intrinsik. Dalam hal motivasi ekstrinsik perlu ada faktor di luar
diri orang tersebut yang mendorongnya untuk berperi-laku tertentu.
Dalam hal semacam
itu kepemimpinan adalah faktor luar. Sedang motivasi intrinsik daya dorong
untuk berperilaku tertentu itu berasal dari dalam diri orang itu sendiri. Jadi
semacam ada kesadaran kemauan sendiri untuk berbuat sesuatu, misalnya
memperbaiki mutu kerjanya.Kepemimpinan yang
merupakan faktor eksternal tadi, harus selalu dapat memotivasi anggota
organisasi perguruan tinggi untuk melakukan perbaikan-perbaikan mutu. Tetapi kalau
setiap kali dan dalam setiap hal harus memberi perintah atau pengarahan, itu
akan menimbulkan kesulitan. Kalau setiap melakukan pekerjaan dengan baik itu
harus dengan perintah pimpinan, dan kalau tidak ada perintah pimpinan tidak
dilakukan pekerjaan dengan baik, maka perbaikan mutu kinerja yang terus menerus
akan sulit diwujudkan.
Oleh karena itu
MMT mengajarkan agar kepemimpinan itu selain untuk memberi pengarahan atau
perintah tentang hal-hal yang perlu ditingkatkan mutunya, juga perlu digunakan
untuk menumbuhkan motivasi intrinsik, yaitu menumbuhkan kesadaran akan perlunya setiap orang dalam
perguruan tinggi itu selalu berupaya meningkatkan mutu kinerjanya
masing-ma-sing secara individual maupun bersama-sama sebagai kelompok ataupun
sebagai organisasi.
§ Kedua, kepemimpinan harus diarahkan agar orang-orang mau berkerjasama
untuk mencapai tujuan tertentu. Jadi perilaku yang ditimbulkan oleh
kepemimpinan itu berupa kesediaan orang-orang untuk saling bekerjasama mencapai
tujuan organisasi yang disepakati bersama. Dalam implementasinya kepemimpinan
MMT yang berhasil adalah yang mampu menumbuhkan kesadaran orang-orang dalam
perguruan tinggi untuk melakukan peningkatan-peningkatan mutu kinerja dan
terciptanya kerjasama dalam kelompok-kelompok untuk meningkatkan mutu kinerja
masing-masing kelompok maupun kinerja perguruan tinggi secara terpadu. Adanya
kerjasama-kerjasama kelompok merupakan salah satu kunci keberhasilan MMT.
Dalam proses
tersebut pimpinan membimbing, memberi pengarahan, mempengaruhi perasaan dan
perilaku orang lain, memfasilitasi serta menggerakkan orang lain untuk bekerja
menuju sasaran yang diingini bersama. Semua yang dilakukan pimpinan harus bisa
dipersepsikan oleh orang lain dalam organisasinya sebagai bantuan kepada
orang-orang itu untuk dapat meningkatkan mutu kinerjanya.
Dalam hal ini
usaha mempengaruhi perasaan mempunyai peran yang sangat penting. Perasaan dan
emosi orang perlu disentuh dengan tujuan untuk menumbuhkan nilai-nilai baru,
misalnya bekerja itu harus bermutu, atau memberi pelayanan yang sebaik mungkin
kepada pelanggan itu adalah suatu keharusan yang mulia, dan lain sebagainya.
Dengan nilai-nilai baru yang dimiliki itu orang akan tumbuh kesadarannya untuk
berbuat yang lebih bermutu. Dalam ilmu pendidikan ini masuk dalam kawasan
affective.
PENGARUH KEPEMIMPINAN
1
Pengertian Pengaruh Kepemimpinan
Perubahan yang
terjadi akibat interaksi yang terjadi antara bawahan dan atasan (pimpinan dan
yang dipimpin). Pemimpin harus mampu memperngaruhi bawahan, hal ini sesuai
dengan pendapat R. Iyeng Wiraputra, M.Sc. dosen IKIP Bandung Buku kepemimpinan
terbitan 1985, hal 27. Bahwa kepemimpinan artinya kemampuan untuk mempengaruhi
bawahan untuk mengikuti atasan. Hal yang mengakibatkan memiliki pengaruh antara
lain pengetahuan, pengalaman, wibawa, kharisma serta jabatan. 2.2 Tugas kepemimpinan
Penyelenggaraan
manajemen sekolah merupakan tugas pemimpin sekolah, inti dari manajemen sekolah
adalah manajemen (Drs. NA Amatembun IKIP Bandung dalam bukunya Dasar manajemen
Sekolah Jilid I, terbitan 1981, hal 38). Dengan demikian tugas pemimpin adalah
melaksanakan fungsi-fungsi manajemen seperti :
·
Perencanaan
·
Pengorganisasian
·
Penetapan staf-staf pembantu pelaksana kegiatan
·
Memberikan pengarahan bimbingan dan pembinaan
·
Mengadakan pengawasan untuk mengatasi penyimpangan
·
Melaksanakan penilaian untuk mengukut keberhasilan
Semua fungsi manajemen diaplikasikan dalam program penyelenggaraan pendidikan di sekolah.
1.
Wewenang Pemimpin
Kekuasaan yang
dibebankan kepada diri seseorang pemimpin sesuai dengan objek
dalam kepemimpinannya.
2.
Hak Pemimpin
Pemimpin formal
mempunyai hak-hak yang perlu disahkan atas ketentuan hukum yang berlaku antara
lain:
•
Hak memperoleh SK dari jabatan yang berwenang
•
Hak memperoleh jaminan atas jabatan
•
Hak mendapat imbalan atas dasar tugas dan tanggung jawab
•
Hak melakukan tugas kepemimpina n kepada bawahan
3. Kewajiban Pemimpin
Pemimpin
adalah jabatan dan jabatan adalah kepercayaan kewajiban pemimpin adalah
mempertahankan kepercayaan untuk melaksanakan tugas yang dibebankan dan
kepercayaan itu perlu dipertanggung jawabkan kepada diri sendiri,
masyarakat, dan bangsa serta kepada Allah SWT.
4.
Tanggung Jawab Pemimpin
Tanggung jawab
adalah keberanian menanggung resiko yang terjadi akibat perbuatan dan tindakan
yang dikerjakan, bawahan sebenarnya hanya membantu pelaksanaan tugas dan
tanggung jawab seorang pemimpin. Dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah
maju mundurnya pendidikan merupakan tanggung jawab pimpinan sekolah sama halnya
seperti dalam keluarga, kepala keluarga bertanggung jawab atas anggota
keluarganya dalammelaksanakan kehidupan berumah
tangga.
2.
Tujuh hal mendasar yang perlu dikuasai Untuk
kepemimpinan mutu
MMT dilaksanakan dalam suatu organisasi atau institusi tertentu yang pada tahap awal implementasinya organisasi itu digerakkan oleh kepemimpinan yang sangat peduli pada mutu dan bertekad kuat untuk membuat organisasinya itu selalu dan terus menerus meningkatkan mutu kiner-janya, apakah itu dalam bentuk produk atau jasa. Kepemimpinan untuk MMT itu memerlukan modal dasar dalam bentuk penguasaan tujuh mendasar yang menyangkut kehidupan organisasinya.
MMT dilaksanakan dalam suatu organisasi atau institusi tertentu yang pada tahap awal implementasinya organisasi itu digerakkan oleh kepemimpinan yang sangat peduli pada mutu dan bertekad kuat untuk membuat organisasinya itu selalu dan terus menerus meningkatkan mutu kiner-janya, apakah itu dalam bentuk produk atau jasa. Kepemimpinan untuk MMT itu memerlukan modal dasar dalam bentuk penguasaan tujuh mendasar yang menyangkut kehidupan organisasinya.
1.
Filosofi Organisasi
Mengapa organisasi
yang dipimpinnya ini ada dan untuk apa ? Jawaban ter-hadap pertanyaan yang
sangat mendasar ini perlu dikuasai secara baik oleh semua orang yang memegang
tampuk kepemimpinan dari suatu organisasi. Tanpa menguasai jawabannya secara
baik diragukan apakah mereka akan mampu mengarahkan orang-orang lain dalam
organisasi itu ke tujuan yang
seharusnya.
2.
V
i s i
Akan menjadi organisasi
yang bagaimanakah organisasi itu di masa depan? Orang-orang yang memegang
kepemimpinan perlu memiliki pandangan jauh ke depan tentang organi-sasinya;
mereka ingin mengembangkan organisasinya itu menjadi organisasi yang bagaimana,
yang mampu berfungsi apa dan bagaimana, yang mampu memproduksi benda dan jasa
apa dan yang bagaimana, serta untuk dapat disajikan kepada siapa ? Visi ini
seharusnya berjangka panjang, misalnya 10 tahun atau
25 tahun ke dapan, agar dapat memfasilitasi usaha-usaha perbaikan mutu
kinerja yang berkelanjutan.
3.
M
i s i
Mengapa kita ada
dalam organisasi ini ? Apa tugas yang harus kita lakukan ? Jawaban terhadap
pertanyaan-pertanyaan ini berkaitan dengan visi tersebut di atas. Bagaimana
visi itu akan dapat diwujudkan ? Tugas-tugas pokok apakah yang harus dilakukan
oleh organisasi agar visi atau kondisi masa depan organisasi tadi dapat
diwujudkan. Rumusan tentang misi organisasi ini juga seharusnya dapat dikuasai
dengan baik dan jelas oleh orang-orang yang memegang kepemimpinan agar mereka
dapat memberi arahan yang benar dan jelas kepada orang-orang lain.
4.
Nilai-nilai
(values)
Prinsip-prinsip
apa yang diyakini sebagai kebenaran yang berfungsi sebagai pedoman dalam
menjalankan tugas organisasi, dan ingin agar orang lain dalam organisasi juga
mengadopsi prinsip-prinsip tersebut. Misalnya mutu, fokus pada pelanggan,
disiplin, kepelayanan adalah nilai-nilai yang seharusnya dianut oleh
orang-orang yang memegang kepemimpinan MMT.
5.
Kebijakan
(policy)
Ialah
rumusan-rumusan yang akan disampaikan kepada orang-orang dalam organisasi
sebagai arahan agar mereka mengetahui apa yang harus dilakukan dalam
menyediakan pelayanan dan barang kepada para pelanggan. Orang-orang yang
memegang kepemim-pinan harus mampu merumuskan kebijakan-kebijakan semacam itu
agar orang-orang dapat menyajikan mutu seperti yang diinginkan oleh organisasi.
6.
Tujuan-tujuan
Organisasi :
Ialah hal-hal yang
perlu dicapai oleh organisasi dalam jangka panjang dan jangka pendek agar
memungkinkan orang-orang dalam organisasi memenuhi misinya dan mewujudkan visi
mereka. Tujuan-tujuan organisasi itu perlu dirumuskan secara kongkrit dan
jelas.
7.
Metodologi
Adalah rumusan
tentang cara-cara yang dipilih secara garis besar dalam bertindak menuju
pewujudan visi dan pencapaian tujuan-tujuan organisasi. Metodologi ini terbatas
pada garis-garis besar yang perlu dilakukan dan bukan detil-detil teknik kerja.
Ketujuh hal yang sangat mendasar itu
perlu dikuasai dan dalam implementasi MMT hal itu akan dituangkan dalam
merumuskan rencana strategis untuk mutu. Tanpa kemampuan merumuskan ketujuh hal
itu secara spesifik dan mengkomunikasikannya
kepada orang-orang dalam organisasi, sulit bagi orang-orang itu untuk
mewujudkan mutu seperti yang diinginkan.
C.Pengertian Kepemimpinan MMT
Untuk
menerapkan MMT dalam suatu organisasi diperlukan adanya kepemimpinan yang
ciri-cirinya berbeda dengan kepemimpinan yang tidak untuk meraih mutu. MMT
diterapkan dalam organisasi yang melihat tugas organisasinya tidak sekedar
melaksanakan tugas rutin, yang sama saja dari hari ke hari berikutnya. Semua
sudah ditentukan standarnya, dan kalau kinerja sudah sesuai standar maka
bereslah segalanya. MMT juga mengenal standar kinerja, tetapi bedanya standar
ini bersifat dinamis, artinya standar itu selalu bisa ditingkatkan. Sehingga
memungkinkan terjadinya peningkatan mutu secara berkelanjutan. Untuk itu MMT
memerlukan kepemimpinan yang mempu-nyai ciri-ciri yang agak khusus seperti yang
akan dibahas berikut ini
1.
Fokus pada Kelompok.
Kepemimpinan lebih diarahkan kepada kelompok-kelompok
kerja yang memiliki tugas atau fungsi masing-masing, tidak memfokus kepada
individu. Hal ini akan berakibat tumbuh berkembangnya kerjasama dalam
kelompok-kelompok. Motivasi individu akan menjadi tugas semua orang dalam kelompok,
jadi kelompok kerja menjadi sumber motivasi bagi setiap ang-gota dalam
kelompok. Karena pimpinan selalu menilai kinerja kelompok, bukan individu, maka
ma-sing-masing kelompok akan berusaha memacu kerjasama yang sebaik-baiknya,
kalau perlu dengan menarik-narik teman sekelompoknya yang kurang benar
kerjanya.
2.
Melimpahkan wewenang untuk membuat keputusan.
Kepemimpinan MMT tidak selalu membuat keputusan sendiri
dalam segala hal, tetapi hanya melakukannya dalam hal-hal yang akan lebih baik
kalau dia yang memutuskannya. Sisanya diserahkan wewenangnya kepada
ke-lompok-kelompok yang ada di bawah pengawasannya. Hal ini dilakukan terutama
untuk hal-hal yang menyangkut cara melaksanakan pekerjaan secara teknis.
Orang-orang yang ada dalam kelompok-kelompok kerja yang sudah mendapatkan
pelatihan dan sehari-hari melakukan pekerjaan itulah yang lebih tahu bagaimana
melakukan pekerjaan dan karenanya menjadi lebih kompeten untuk membuat
keputusan dari pada sang pimpinan.
3.
Merangsang kreativitas.
Setiap upaya meningkatkan mutu kinerja, apakah itu dalam
mengha-silkan barang atau menghasilkan jasa, pada dasarnya selalu diperlukan
adanya perubahan cara kerja. Jadi kalu diinginkan adanya mutu yang lebih baik
jangan takut menghadapi perubahan, se-bab tanpa perubahan tidak akan terjadi
peningkatan mutu kinerja. Perubahan bisa diciptakan oleh pemimpin, tetapi tidak
perlu harus selalu berasal dari pimpinan, sebab kemampuan pemim-pinpun
terbatas. Oleh karena itu pemimpin justru perlu merangsang timbulnya
kreativitas di ka-langan orang-orang yang dipimpinnya guna menciptakan hal-hal
baru yang sekiranya akan menghasilkan kinerja yang lebih bermutu. Seorang
pemimpin tidak selayaknya memaksakan ide-ide lama yang sudah terbukti tidak
dapat menghasilkan mutu kinerja seperti yang diharap-kan. Setiap ide baru yang
dimaksudkan untuk menghasilkan sesuatu yang lebih bermutu dari manapun asalnya
patut disambut baik. Orang-orang dalam organisasi harus dibuat tidak takut
untuk berkreasi, dan orang yang terbukti menghasilkan ide yang bagus harus
diberi pengakuan dan penghargaan.
4.
Memberi semangat dan motivasi untuk berinisiatif dan
berinovasi.
Seorang pimpinan MMT selalu mendambakan pembaharuan,
sebab dia tahu bahwa hanya dengan pembaharuan akan dapat dihasilkan mutu yang
lebih baik. Oleh karena itu dia harus selalu mendorong semua orang dalam
organisasinya untuk berani melakukan inovasi-inovasi, baik itu menyangkut cara
kerja maupun barang dan jasa yang dihasilkan. Tentu semua itu dilakukan melalui
proses uji coba dan evaluasi secara ketat sebelum diadopsi secara luas dalam
organisasi. Sebaliknya seo-rang pimpinan tidak sepatutnya mempertahankan
kebiasaan-kebiasaan kerja lama yang sudah terbukti tidak menghasilkan mutu
seperti yang diharapkan olah organisasi maupun oleh para pe-langgannya.
5.
Memikirkan program penyertaan bersama.
MMT selalu mengupayakan adanya kerjasama dalam tim,
kelompok, atau dalam unit-unit organisasi. Program-program mulai dari tahap
peren-canaan sampai ke pelaksanaan dan evaluasinya dilaksanakan melalui
kerjasama, dan bukan pro-gram sendiri-sendiri yang bersifat individual. Adanya
sistem kerja yang didasari oleh kerjasama dalam tim, kelompok atau unit itu
harus selalu menjadi pemikiran para pimpinan MMT. Dasarnya adalah
pengikut-sertaan semua orang dalam kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan ba-kat,
minat dan kemampuan masing-masing orang. Orang adalah aset terpenting dalam
organisasi dan karena itu setiap orang yang ada harus dimanfaatkan secara
optimal bagi kepentingan penca-paian tujuan organisasi.
6.
Bertindak proaktif.
Pemimpin MMT selalu bertindak proaktif yang bersifat
preventif dan an-tisipatif. Pemimpin MMT tidak hanya bertindak reaktif yang
mulai mengambil tindakan bila su-dah terjadi masalah. Pimpinan yang proaktif
selalu bertindak untuk mencegah munculnya masa-lah dan kesulitan di masa yang
akan datang. Setiap rencana tindakan sudah difikirkan akibat dan konsekuensi
yang bakal muncul, dan kemudian difikirkan bagaimana cara untuk mengeliminasi
hal-hal yang bersifat negatif atau sekurang berusaha meminimalkannya. Dengan
demikian ke-hidupan organisasi selalu dalam pengendalian pimpinan dalam arti semua sudah
dapat diper-hitungkan sebelumnya, dan bukannya memungkinkan munculnya
masalah-masalah secara me-ngejutkan dan menimbulkan kepanikan dalam organisasi.
Tindakan yang reaktif biasanya sudah terlambat atau setidaknya sudah sempat
menimbulkan kerugian atau akibat negatif lainnya.
7.
Memperhatikan sumberdaya manusia.
Sudah dikatakan sebelumnya bahwa orang adalah sumberdaya
yang paling utama dan paling berharga dalam setiap organisasi. Oleh karena itu
SDM harus selalu mendapat perhatian yang besar dari pimpinan MMT dalam arti
selalu diupa-yakan untuk lebih diberdayakan agar kemampuan-kemampuannya selalu
meningkat dari waktu ke waktu. Dengan kemampuan yang meningkat itulah SDM itu
dapat diharapkan untuk mening-katkan mutu kinerjanya. Program-program
pelatihan, pendidikan dan lain-lain kegiatan yang bersifat memberdayakan SDM
harus dilembagakan dalam arti selalu direncanakan dan dilaksa-nakan bagi setiap
orang secara bergiliran sesuai keperluan dan situasi.
8.
Bicara tentang adanya persaingan ketat.
Bila berbicara tentang mutu tentu akan terlintas adanya
mutu yang tinggi dan mutu yang rendah. Bila dikatakan bahwa kinerja suatu
organisasi itu tinggi tentu karena dibandingkan dengan mutu organisasi lain
yang kenyataannya lebih rendah. Artinya mutu tentang segala sesuatu itu
sifatnya relatif, bukan absolut. Setidaknya begitulah pengertian mutu menurut
MMT. Pimpinan dalam MMT dianjurkan melakukan pem-bandingan dengan organisasi
lain, membandingkan mutu organisasinya dengan mutu organisasi lain yang
sejenis. Kegiatan ini disebut benchmarking. Pimpinan MMT selalu berusaha
menya-mai mutu kinerja organisasi lain dan kalau bisa bahkan berusaha melampaui
mutu organisasi lain.
Bila pimpinan berbicara tentang mutu organisasi lain dan
kemudian ingin menyamai atau melebihi mutu organisasi lain itu, berarti pmpinan
itu berbicara tentang persaingan. Setiap organisasi berusaha mendapatkan
pelanggan yang lebih banyak dan yang berciri lebih baik. Usaha ini hanya akan
berhasil kalau organisasi itu mampu berkinerja yang mutunya lebih tinggi dari
organisasi lain. Ini persaingan. MMT dikembangkan untuk memenangkan persaingan.
Oleh karena itu pimpinan MMT selalu harus menyadari adanya persaingan dan
berbicara tentang itu dengan orang-orang dalam organisasinya.
9.
Membina karakter, budaya dan iklim organisasi.
Karakter suatu organisasi tercermin dari pola sikap dan
perilaku orang-orangnya. Sikap dan perilaku organsasi yang cenderung menim-bulkan
rasa senang dan puas pada fihak pelanggan-pelanggannya perlu dibina oleh
pimpinan. Demikian pula budaya organisasi yang menjunjung tinggi nilai-nilai
tertentu yang relevan dengan mutu yang diinginkan oleh organisasi itu juga
perlu dibina. Misalnya dalam lembaga pendidikan perlu dikembangkan budaya yang
menjunjung tinggi nilai-nilai belajar,
kejujuran, kepelayanan, dan sebagainya. Nilai-nilai yang merupakan bagian dari
budaya organisasi itu harus menjadi pedoman dalam bersikap dan berperilaku
dalam organisasi. Namun demikian ka-rakter dan budaya organisasi itu hanya akan
tumbuh dan berkembang bila iklim organisasi itu menunjang. Olah karena itu
pimpinan juga harus selalu membina iklim organisasinya agar kon-dusif bagi
tumbuh dan berkembangnya karakter dan budaya organisasi tadi. Misalnya dengan
menciptakan dan melaksanakan sistem penghargaan yang mendorong orang untuk
bekerja dan berprestasi lebih baik. Atau pimpinan yang selalu berusaha
berperilaku sedemikian rupa hingga dapat menjadi model yang selalu dicontoh
oleh orang-orang lain.
10.
Kepemimpinan yang tersebar.
Pemimpin MMT tidak berusaha memusatkan kepemimpinan pada
dirinya, tetapi akan menyebarkan kepemimpinan itu pada orang-orang lain, dan
hanya me-nyisakan pada dirinya yang memang harus dipegang oleh seorang
pimpinan. Kepemimpinan yang dimaksudkan adalah pengambilan keputusan dan
pengaruh pada orang lain. Pengambilan tentang kebijaksanaan organisasi tetap
ditangan pimpinan-atas, dan lainnya yang bersifat operasional atau bersifat
teknis disebarkan kepada orang-orang lain sesuai dengan kedudukan dan tugasnya.
Dalam banyak hal bahkan pengambilan keputusan itu diserahkan kepada tim atau
kelompok kerja tertentu. Dengan demikian ketergantungan organisasi pada
pimpinan akan sangat kecil, tetapi sebagian besar dari orang-orang dalam
organisasi itu memiliki kemandirian yang tinggi. Kondisi semacam ini tentu saja
akan tercapai melalui penerapan MMT yang baik dan benar, dan setelah melalui
proses pembinaan yang panjang.
Makin banyak dari kesepuluh ciri itu yang diterapkan oleh
pimpinan MMT semakin baiklah mutu kepemimpinannya, dalam arti makin baiklah
suasana kerja yang kondusif untuk terciptanya mutu, dan makin kuatlah dorongan
yang diberikan kepada orang-orang dalam orga- nisasinya untuk meningkatkan mutu
kinerjanya. Kesepuluh hal tersebut perlu dihayati dan di-praktekkan oleh semua
pimpinan , dari yang tertinggi sampai yang terrendah, sehingga akhirnya akan
menjelma menjadi pola tindak yang normatif dari semua unsur pimpinan.
A. Kesimpulan
Dari
penulisan ringkas di atas dengan melihat latar belakang dan pembahasan masalah,
maka dapat diambil kesipulan sebagai berikut:
v Bahwa tujuannya antara lain adalah menyiapkan peserta didik menjadi
anggota masyaraat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau profesional yang
dapat menerapkan, mengembangkan, memperkya khanazah ilmu pengetahuan,
teknologi, kesenian, serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf
kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional.
v
Budaya organisasi di lembaga
pendidikan adalah pemaknaan bersama seluruh anggota organisasi di suatu lembaga
pendidikan yang berkaitan dengan nilai, keyakinan, tradisi dan cara berpikir
unik yang dianutnya dan tampak dalam perilaku mereka, sehingga membedakan
antara lembaga pendidikan dengan lembaga pendidikan lainnya.
v
Perekat organisasi pendidikan adalah
kepercayaan pimpinan kepada bawahan, keakraban/kebersamaan, dan kejujuran dan
tanggung jawab.
Kepemimpinan sangat berpengaruh dalam proses
penyelenggaraan pendidikan di sekolah, agar pengaruh yang timbul dapat
meningkatkan kinerja personil secara optimal. Maka pemimpin harus memiliki
wawasan dan kemampuan dalam melaksanakan gaya kepemimpinan
Kemampuan pemimpin
dalam memerankan gaya kepemimpinan yang bertumpu kepada partisipasi aktif semua
personil sekolah akan memunculkan keberhasilan seorang pemimpin
Pemimpin harus
memiliki pemahaman tentang konsep sistem (berpikir secara sistematik) dalam
memahami suatu sekolah sebagai suatu kesatuan yang utuh.
Pemimpin harus
memahami wawasan jauh kedepan agar tantangan masadepan telah menjadi program
dalam penyelenggaraan pendidikan.
Konsentrasi
pemimpin terhadap kinerja personil pada akhirnya sasaran yang hendak dicapai
adalah peningkatan prestasi sekolah pada umumnya dapat tercapai adalah
peningkatan prestasi sekolah pada umumnya dapat tercapai dan pada khususnya
menghasilkan tamatan yang berkualitas.
B. Saran-Saran
- Untuk meningkatkan kinerja
personil sekolah sebaiknya kunjungan antar sekolah sering dilakukan untuk
melihat kemajuan dan perkembangan yang telah dicapai di sekolah
masing-masing.
- Sebaiknya kesejahteraan lahir
dan batin mendapat prioritas dalam melaksanakan tugas pemimpin.
DAFTAR PUSTAKA
•
-----------, 2003. Undang- Undang
Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 manajemen
pendidikan ,
Jakarta: Depdiknas RI
•
-----------,2002. Masalah manajemen pendidikan di Indonesia, Jakarta: Departemen Pendidikan dan kebudayaan
Ditjen Dikdasmen - Dik menum.
•
Wanto, 2005. manajemen dan
pendidikan, Surabaya;
Tabloid Nyata IV Desember
•
Mudahan Anda terbantu dengan Contoh Makalah
Pendidikan ini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar